Sunday, June 4, 2017

PERJALANAN MENCARI CAHAYA - A True Story

"They READ it with their finger tips, while I could read nothing. I thought I was A MOST BLIND among the blind people…”.  

Rasakan cerita ini… 

Awal Mei 2017, sebuah info menyapa para kurir #SedekahRombongan Bekasi. Tentang dua bocah dhuafa yang tak dapat melihat,  berada di sebuah wilayah yang lumayan jauh dari tempat saya tinggal. Tanggal 6 Mei 2017, saya dan rekan-rekan kurir mendatangi kediaman dua bocah itu. Berbekal secarik alamat rumahnya, di Kp. Cempaka, RT 013/004 Desa Sirnajaya, Kec. Serang Baru, Kab. Bekasi. Setelah bertanya sana sini, berjalan kaki kurang lebih 20 menit karena akses rumah keluarga itu tak bisa dimasuki mobil. Menyusuri jalanan tanah yang untungnya tidak sedang musim hujan. Desa yang lumayan tandus, dengan tingkat kemiskinan yang memprihatinkan.

Tibalah kami di gubuk si miskin, sebuah rumah berlantai tanah, berdinding kayu dan bilik, ada lubang besar di sana-sini, cahaya remang dan semerbak bau lembab melengkapi kisah nyata ini. Masuk ke dalam tak kita dapati barang berharga selain bale usang, kami langsung diterima oleh Wawan (42) dan  Kanah (33) yang tak lain adalah kedua orangtua bocah malang ini.

Suami istri ini menetap di rumah yang kumuh bersama 3 orang anak dan dua di antaranya yang menjadi tujuan kedatangan Tim #SR. Di salah satu sudut rumah itulah duduk dua bocah yang hanya mengenakan kaus dalam, tatapannya kosong namun nampak waspada dengan raut ketakutan menyadari ada suara-suara asing yang hanya bisa mereka dengar. Ya, kedua anak ini buta sejak lahir. Dalam istilah kedokteran disebut katarak kongenital, yang dimungkinkan bisa terjadi sejak lahir tanpa menyebabkan nyeri.

Batin saya terkesiap, jantung saya serasa berhenti berdetak. Menyadari dua kakak beradik ini, Wilda Sari (7), dan Kandi Wijaya (5) telah melewatkan usia kanak-kanak mereka dalam kegelapan tanpa cahaya. Mata saya basah…  juga saya melihat dua rekan saya yang lainpun ikut berkaca-kaca, kami merasa telah jatuh rasa melihat apa yang diperlihatkan Tuhan di hadapan kami saat ini. Sebuah cermin terbalik dalam kehidupan kita, saat anak-anak yang lain setiap saat dapat bermain, tertawa dan berteriak gembira menyaksikan film kartun di televisi sementara kedua anak ini bertahun-tahun tak mampu melihat warna dunia selain hitam.

Wawan tak punya pekerjaan tetap, ia bekerja serabutan hanya untuk makan sekeluarga. Sedangkan Kanah tak bisa membantu urusan nafkah karena keadaan dua buah hati yang tak memungkinkan untuk ditinggal sendiri. Dalam harapannya, pasangan ini ingin Wilda dan Kandi bisa hidup normal seperti anak-anak seusianya, dapat bersekolah, bermain dan tumbuh menjadi anak sholeh dan sholehah. Namun apa daya, mereka hanya seonggok benda yang mengisi ruang kelompok masyarakat miskin negeri ini yang bermasalah dengan ekonomi. Mereka memilih diam pasrah sebagai pengganti doa-doa yang tak terucap setiap saat.


Cerita pengobatan mereka, awalnya pernah dibantu sebuah lembaga sosial untuk ihtiar kesembuhannya 3 tahun lalu ke sebuah Rumah Sakit di Bandung. Namun seperti biasa RS meminta biaya untuk jaminan awal sebesar 5juta rupiah, spontan membuat keluarga ini menyerah. Sejak itu mereka pasrah tak lagi akan berniat berobat, belum lagi membayangkan biaya transportasi akomodasi yang menjadi beban paralel bagi mereka. Mereka yang tak berpendidikan dan awam urusan birokrasi memilih berhenti, sekalipun waktu berikutnya ada bantuan BPJS yang mereka tetap tak mampu membayar iurannya dan terus berhutang pada pemerintah bukan seharusnya pemerintah berhutang pada mereka.

Menutup kunjungan kami di keluarga Wawan, Form Survey sudah lengkap kami isi sebagai Standard Operation Procedure. Kami pamit dan langsung berdiskusi di jalan pulang atas hasil Kick-Off meeting dengan Rakyat Miskin ini, mereka keluarga baru kita yang wajib kita perhatiakan lebih manusiawi. Lanjut esoknya kita memulai proyek langit ini, sebuah revolusi membantu dhuafa, mensukseskan program pemerintah entaskan kemiskinan. Diawali dengan mengurus dan membayarkan tunggakan BPJS, kembali mengantarkan observasi awal di RSUD Cibitung hingga dalam hitungan hari berikutnya mereka sudah dirujuk ke RS Mata Cicendo Bandung.

Tanggal 11 Mei 2017, jam 03.00 dini hari, Mobil Tanggap Sedekah Rombongan (MTSR) memulai kunjungan awal ke RS Cicendo Bandung membawa Wilda dan Kandi, saya ingat betul betapa seluruh kurir #SRBekasi begitu antusias memantau perkembangan kedua anak itu. Bocah malang yang telah merebut hati, dengan keadaannya yang dhuafa lagi buta. Sambil menunggu perkembangan mereka hari demi hari, bantuan para sedekaholics pun mulai mengalir yang dititipkan kepada kurir #SR. Baik itu berupa makanan atau pakaian untuk keduanya. Pada kunjungan ketiga 29 Mei 2017, Wilda dan Kandi diantar lagi ke Bandung dan ditampung di Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) Jalan Sukajadi Bandung untuk kemudian masuk ke ruang isolasi bagi persiapan operasi sebelah mata mereka pada 1 Juni dan naik kemeja operasi tanggal 2 Juni 2017.


Kemarin siang kami mendapat kejutan dari Muhammad Amin - Driver MTSR Bekasi yang mendampingi mereka dengan mengirimkan foto kedua bocah lucu itu usai dioperasi. Suasana haru menyeruak di grup #SRBekasi dan #SRDKIJaBarBanten menyaksikan senyum Wilda dan Kandi dengan mata yang masih tertutup kasa. Kami juga melihat bagaimana air mata kedua orang tua bocah itu tumpah dipelukan kurir #SR yang menjemput mereka kembali ke Bekasi. Tangis haru dan bahagia menjadi satu, larut dalam rasa syukur yang tak terukur, tak menyangka ketika keputus-asaan mereka yang hidup dalam kekurangan, tak mungkin bisa membayangkan kedua buah hati tercinta mampu menemukan kembali cahaya kehidupan mereka. Ternyata bukan cuma bayangan yang mereka temukan, tapi sebuah kenyataan bahwa ada tangan-tangan yang Tuhan pilihkan telah sampai kepada mereka. Menerbitkan harapan mereka dan kita yang selama ini telah padam.

Dadaku berdegup kencang tak bisa menolak bahagia, terlebih untuk Wilda dan Kandi. Dua bocah yang menempuh jalan panjang menemukan cahaya kembali, bersinarlah terus wahai permata hati. Sambut masa depan yang cerah di depan sana yang telah menanti, dunia kini milikmu. Perjalanan menemukan cahaya itu memang belum berakhir, namun secercah cahaya ini adalah mentari pagi, yang akan disusul oleh cercah sinar yang lebih terang lagi...

Terima kasih para Kurirs dan Sedekaholics www.sedekahrombongan.com, semoga bantuan kalian pada Wilda dan Kandi menjadi Pahala yang dahsyat di Ramadhan yang indah ini... 

"Tiada satu hatipun yang tergetar, tanpa Allah mengetuknya... Seperti MATA kita, takkan berfungsi tanpa Allah ciptakan cahaya. Begitupun AKAL takkan berfungsi dengan baik tanpa Allah memberikan Rahmat-Nya..."



Contributor: Suharna - Korwil SR Bekasi
Writter : Sri Suharni Maks – Kurir SR Kab. Bekasi

Friday, April 7, 2017

THE POWER OF JAMAAH




Puji syukur bagi Allah yang dengan kemutlakan kekuasaan-Nya menentukan perubahan keadaan semua mahluk ciptaan-Nya, DIA Maha Lembut dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya di saat menghadapi beratnya cobaan dan suasana yang mencemaskan.
Sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw. Beserta segenap keluarga, para sahabat yang mengabdikan hidup untuk menegakkan kebenaran Allah sepanjang zaman.

Para sahabat yang budiman, khususnya para Kurir #SedekahRombongan… Seiring dengan tulisan ini tibalah saatnya saya berbicara dari hati ke hati, khususnya mengenai perjalanan 5 tahun lebih keberadaan saya di Sedekah Rombongan bersama Koordinator Utama, Koordinator Wilayah, Kordinator Kota dan Para Kurir di seluruh Indonesia. Menyambung curhat saya tentang Sedekah Rombongan 4 tahun lalu di : "Refleksi 2 tahun bersama #SedekahRombongan", semoga tulisan ini menjadi pelengkap.

Semua Kurir begitu ikhlas bekerja hingga SR tumbuh laksana bayi yang sehat dan makin dinantikan kiprahnya meluas di tengah-tengah rakyat Indonesia, SEDEKAH ROMBONGAN adalah sebuah gerakan revolusioner yang secara berjamaah digerakan oleh kumpulan orang-orang yang ingin berkhidmat pada dhuafa sakit, gayanya sangat jalanan, menyantuni tanpa prosedur rumit hingga dhuafa bisa tersenyum dan maka pada awalnya SR menjuluki sendiri sebagai kelompok sedekah jalanan yang sat-set sekali bergerak membantu si miskin berobat. Tahun pertama pencapaian manfaat donasi terdistribusi mencapai angka 1 milyar rupiah dengan hanya berbasis media sosial Twitter dan hanya digerakan oleh puluhan orang, hingga kini masuk tahun ke 6 mencapai 50 milyar lebih diangkat oleh lebih dari 500an kurir se-Indonesia.

Alhamdulillah, dari mulai beberapa gelintir orang di Pulau Jawa, Sulawesi, Sumatera hingga kini dilengkapi Kalimantan, Bali, Maluku serta Aceh dan Papua telah bergabung menjadi kurir di beberapa daerah dan SR kini telah menjadi sebuah jaringan layaknya cabang organisasi atau cabang perusahaan. Kita telah memiliki 14 Rumah Singgah untuk transit para pasien rujukan serta 38 Ambulan sebagai kendaraan operasional mobilisasi dan demobilisasi, menggapai distribusi hingga 312 dari 514 kabupaten kota di Nusantara, sebagai catatan Indonesia memiliki 420 kabupaten dan 94 kota yang secara rasio sudah 60,7% dari seluruh daerah tersentuh Sedekah Rombongan. 

Sedekah Rombongan memiliki format yang kongkrit bagi Public Private Partnership untuk membantu pemerintah,  menukil sambutan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa saat Milad ke 5 SR di Jepara, “Triple-P adalah sebuah keniscayaan, Keterbatasan SDM, Energi, Anggaran dan Struktur yang ada di Pemerintah Pusat, Provinsi maupun Pemkab dan Pemko maka Community Participation itu menjadi aspek yang sangat penting untuk percepatan layanan masyarakat”.

Banyak sudah sukacita dan dukacita mengiringi tumbuh kembangnya SR, hikmah yang didapatpun sangat melimpah baik dari ketentraman jiwa karna membantu dhuafa serta ilmu yang diperoleh dan utamanya banyaknya dhuafa terobati. Mengurus fasilitas kesehatan bagi dhuafa dan mendampingi mereka pulang dan pergi ke rumah sakit hingga sembuh adalah makanan sehari-hari kita, kadang kita didoakan mereka, didekap badan kita serta diciumi tangan kita adalah ekspresi doa yang mereka lakukan pada kita walau sebetulnya kita tidak meminta.

Suatu hari di sekitaran RSCM Jakarta di pinggir jalan Inspeksi Kali Ciliwung ada seorang Ibu setengah baya asal Wonogiri sedang menangis bersama dengan anaknya lelaki berusia 12 tahun. Mereka bersedih hati karna sudah 2 hari berobat ke RSCM tapi loket pendaftaran Poli tutup, mereka kesiangan karna jarak tempuh yang sangat jauh berkendaraan umum dari Tangerang ke Jakarta Pusat membuat mereka selalu terlambat sampai Jakarta. Anaknya sebut saja bernama Wawan saat itu kelas 5 SD dan sekolahnya memaksanya keluar dikarnakan sering tidak hadir di kelas sebab sakit yang dideritanya, Wawan sering muntah darah - Ia terkena Varices Oesophagus adalah suatu keadaan di mana kelainan pembuluh darah vena, karena pembuluh darahnya membengkak  dan mengalami kesulitan mentransport darah melalui katup-katupnya.
Singkat cerita, Ibunda Wawan dipertemukan Allah ke Rumah Singgah Sedekah Rombongan Jakarta (RSSR) dan ia langsung menangis bercerita pada saya bahwa ia sudah kehabisan ongkos untuk pulang tapi belum juga berobat untuk Wawan. Kita langsung siapkan kamar di RSSR serta keperluan Wawan dan Ibunya untuk melanjutkan perobatannya esok hari, Mobil Tanggap Sedekah Rombongan (MTSR) mengantarkan Wawan dan Ibunda ke rumahnya untuk mengambil kelengkapan pakaian untuk tinggal di RSSR tanpa dipungut biaya apapun. Subhanallah… Rumah mereka berukuran kecil dan kumuh dari mulai dinding, lantai dan propertynya, ditemani Kurir SR sambil merekatkan satu persatu plastik pembungkus menggunakan api dari lilin, janda pedagang keliling makanan ringan ini mengutarakan harapannya untuk membesarkan Wawan anak lelaki satu-satunya agar sehat bisa bersekolah seperti anak lainnya.

Jutaan cerita tangisan si miskin adalah soal-soal ujian dari Rabbul ‘Alamina yang wajib kita jawab bersama, salah satunya cerita tentang keluarga Wawan ini wajib kita buat kontemplasi bahwa mereka adalah saudara baru kita yang lebih layak kita ajak komunikasi dan kita bantu berobat, jika kita sendiri menolongnya pasti ada keterbatasan dana dan tenaga. Maka konsep jamaah di SR adalah solusi terbaik untuk mengangkat bersama-sama keadaan sakit para kaum ploretarian, SR hadir untuk sebuah kedaruratan, untuk menutupi blank-spot yang selama ini tak terjamah pemerintah. Rakyat yang bijaksana adalah yang selalu membantu kekurangan pemerintah dan kita tak perlu mencibir pemerintah, lakukan kebaikan secara ikhlas - istiqomah - tanpa mencibir adalah standar pertama sedekah.

Tak mampu rasanya mencari penyebab orang-orang yang tadinya tidak saling mengenal tapi kini seperti saudara yang memiliki kasih sayang yang sangat kuat, mengangkat beban para dhuafa digerakan tanpa upah dan kedudukan karir yang penuh penghormatan dunia. Keterseharian kita yang sudah bersahabat dengan dhuafa adalah lebih manusiawi, kita disibukan dengan bantuan yang mereka harapkan. Seperti menjadi Kurir Sedekah Rombongan seakan Allah telah memilih kita untuk mengurus mereka, tapi yang terpenting ikhlas karna Allah. Memang apa yang kita lakukan sangat luar biasa, heroik, namun jadikanlah yang luar biasa itu menjadi biasa agar tak hadir jumawa. 

Hikmah membantu dhuafa itu menaikan Hormon Endorphin, suatu zat atau senyawa kimia yang diproduksi tubuh untuk membuat seseorang merasa senang dan berdampak baik untuk kekebalan tubuh -  mengobati kegalauan hidup, penuh rasa bahagia, juga tak luput dari pahala yang akan Allah berikan.

Kita tarik benang merah dari profesi kita sebagai Kurir, semua yang kita lakukan di Sedekah Rombongan tentunya memiliki konsekwensi yang tidak terlepas dari tata-laksana. Walaupun sedekah jalanan namun kita mampu memiliki alur kerja yang standar, SR memiliki WORKFLOW: Survey – Santuni – Dampingi dan diparipurnakan dalam sebuah Dokumentasi Narasi dan Laporan Keuangan sebagai sebuah Completion Report, karna apa yang kita lakukan saat ini harus makin profesional memiliki kredibilitas dan akuntabilitas.

Sahabat saya seorang Jurnalis Senior, dia katakan sejak awal berdirinya SR sudah jatuh hati karna melihat pergerakannya sangat responsif dan dinamis. Dia menjadi pemerhati SR melalui situs www.sedekahrombongan.com dan Majalah Tembus Langit, disimpulkan bahwa SR sudah memiliki Kinerja yang baik sebagai Gerakan Sosial pada Generasi 3.0 (Three Point 0). Dimana SR hadir sangat solutif menjadi pertolongan pertama di tengah-tengah rakyat yang sedang kesulitan untuk berobat, di mana pelayanan yang digunakan tanpa birokrasi instansi dan terus melakukan pendampingan serta terus berbenah pada profesionalisme pertanggungjawaban pelaporan.

Jika hari ini adalah tanggal 9 Juni 2017 dan zero milestone SR adalah 9 Juni 2011 artinya 6 tahun kita telah menjadi jembatan distribusi dana Donatur bagi Dhuafa sebesar 50 Milyar rupiah untuk 26.000 santunan, maka equivalent dengan Rp.15.855,- permenitnya. TAKJUB pada sebuah kenyataan yang tak mampu kita bayangkan namun telah terjadi, tentu kita tak bisa melakukannya sendiri kecuali izin Allah bersama-sama di Sedekah Rombongan.

Sahabat Kurir Sedekah Rombongan semua, Ayo kita terus kompak bergelora mengunjungi gubuk-gubuk si miskin, selasar-selasar kelas 3 RSUD dan daerah-daerah yang terkena bencana – Tuhan telah menunggu di sana dengan segudang pahala-Nya untuk kita, rapihkan narasinya dan kumpulkan kwitansinya. Rapatkan barisan, tetap dalam formasi untuk menjadi benteng yang kokoh, seperti firman Allah dalam Surat Ash-Shaff : 4

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.

Secara sunnatullah Alam Semesta adalah benda makrokosmos yang berjamaah bergerak beraturan, seluruh planet mengelilingi matahari, begitupun Manusia sebagai benda mikrokosmos yang diberi akal dan fitrah akan lebih baik beribadah dan beramal secara berjamaah dan beraturan, maka Kurir SR wajib bekerja berjamaah dengan mengikuti peraturan. Semoga apa yang telah kita lakukan di Sedekah Rombongan mendapat ridlo Allah, pasien-pasien dhuafa banyak yang sembuh dan para donatur diberikan kesehatan dan kelapangan rezeki hingga terus dapat bersedekah. 

Jadilah sebagai trend-setter dan role-model kehidupan untuk anak cucu kita bahwa hidup itu harus memberi, bukan meminta apalagi mengambil…


Salam #TembusLangit,
Kang Eded









Wednesday, January 18, 2017

ALLAH ADA DI GUBUK SI MISKIN

ALKISAH, di daerah Damsyik Syria ada seorang Tukang Sol bernama Sayid bin Muhafah, pekerjaan sehari-harinya memperbaiki sandal dan sepatu. Sayid orang yang soleh dan taat beribadah. Walaupun penghasilan hidupnya apa adanya dari memperbaiki sepatu, namun Sayid sangat berharap ingin menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Sayid selalu berdoa dan berprasangka baik, ”Ya Allah, semoga Engkau kabulkan niatku menjadi kenyataan dan mampukan aku untuk berhaji…”.  

Singkat cerita Sayid dibantu isteri tercintanya, mereka tak pernah berputus asa dan selalu bersyukur hingga beberapa tahun kemudian Sayid memiliki 350 dirham tabungan hajinya dan di bayangannya kebahagiaan menyelimuti akan nanti datangnya kegembiraan dalam ibadah berhaji, “Aku tinggal bersabar menunggu musim haji.. Allahu Akbar, aku akan mengunjungi Kabah, jiarah ke makam Rasulullah” – Kata-kata tanpa suara terucap bersama dengan senyuman gembira menghiasi perjalanan pulang Sayid ke rumahnya.

Sesampai di rumah, istri Sayid bin Muhafah yang dalam keadaan hamil mencium bau masakan dari tetangganya di sebelah rumah mereka dan istrinya sangat menginginkan masakan itu. Tetapi Sayid tahu bahwa tetangganya adalah seorang janda miskin yang memiliki beberapa anak yatim, walau diselimuti keraguan Sayid pun memberanikan diri memintanya. Dijumpainya perempuan janda itu seraya berkata, “Maaf ibu, Istri saya mencium bau masakan anda dan sudikah kiranya memberikan sedikit saja agar istriku mencicipinya?”

Sejenak si janda terperangah dan menjawab sedih, “Sejak beberapa hari yang lalu, persediaan makanan kami habis. Dari kemarin saya sudah berusaha mencari nafkah, tapi tak memperoleh apapun. Padahal anak-anak saya butuh makan.” Sejenak perempuan itu menghela nafasnya yang berat. “Tadi saya menemukan bangkai keledai di jalan. Karena sudah lelah, saya nekat memotongnya lalu saya masak untuk dimakan”. ““Saya tak tega memberikan makanan ini pada kalian berdua tetanggaku yang baik, , “Bangkai makanan itu haram bagi anda. Tapi halal bagi kami karna kelaparan…,” tuturnya dengan mata yang berlinang.

Sayid terperanjat, Ia sangat iba. Lalu bergegas pulang, diambilnya simpanan uangnya yang tiga ratus lima puluh dirham itu. Tanpa pikir panjang lagi, ia berikan uang yang diperolehnya dari hasil kerja keras selama ini. Padahal, uang itu sudah diniatkan untuk biaya berhajinya.
Dengan keikhlasannya Sayid berkata, “Terimalah uang ini untuk makan kalian,”. Betapa terharunya janda miskin itu, mereka tidak akan kelaparan lagi untuk waktu yang cukup lama. 
“Terimakasih, tuan sudah bermurah hati menolong kami dari kelaparan,” ucap perempuan itu tertunduk. “Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan tuan. Semoga Allah akan membalasnya dengan rahmat yang berlimpah.“. Mendengar doa perempuan itu, Sayid menitikkan air mata.

'Labbaika allahumma labbaik, Laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan-ni'mata laka wal mulk, laa syariikalak."

Saat musim haji pun tiba, Sayid bin Muhafah tetap tersenyum walau batal menunaikan ibadah haji. Tapi hati laki-laki sholeh itu bahagia, bisa menolong kesengsaraan seorang janda miskin dan anak-anaknya.

Pada musim haji waktu itu, salah seorang ulama besar, Abdullah bin Mubarak, menunaikan ibadah haji. Suatu sore, seusai thawaf berkali-kali ia merasa sangat letih. Lalu, ia pun beistirahat di Hijr Ismail. Antara tidur dan tidak, tiba-tiba ia mendengar percakapan dua malaikat.

“Berapa orang yang menunaikan ibadah haji tahun ini?”
“Tujuh ratus ribu orang.”
“Kira-kira berapa orang yang hajinya diterima Allah?”
“Tak seorangpun!”
“Tapi seorang tukang tambal sepatu dari Damsyik yang bernama Sayid bin Muhafah diterima hajinya oleh Allah, kendati Ia tidak menunaikan ibadah haji. Dan berkat hajinya orang inilah, maka semua jamaah haji sekarang diterima juga oleh Allah.”

Begitu malaikat itu menghilang, Abdullah bin Mubarak tersadar dari setengah tidurnya. “Masya Allah! Amal perbuatan apa yang telah dilakukan Sayid? Begitu besar pengaruhnya disisi Allah…,” bisik Abdullah terpesona.

Selesai ibadah haji, ulama besar itu bergegas ke Damsyik. Ia ingin sekali menemui Sayid bin Muhafah. Dan begitu bertemu, ulama itu langsung menceritakan kejadiannya waktu di Hijr Ismail. Sayid sendiri baru menyadari, lalu bersyukur atas karunia itu kehadirat Allah. Sayid lalu mengisahkan perjuangannya untuk mencapai cita-citanya yang ingin beribadah haji, tapi akhirnya tidak jadi berangkat.

“Ku berikan semua uangku agar mereka bisa makan dan berusaha untuk hidup… Aku tidak menyesal tidak jadi berhaji karena aku mengharap keridhaan Allah, Di sinilah Hajiku ya Allah… Di sinilah Mekkahku” kata Sayid.

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata. “Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya”, “Tuan, andalah seorang haji yang mabrur atas ridha Allah…,” kata sang ulama kagum.


SAUDARAKU yang dirahmati Allah, kadang kita tidak yakin, bingung dan lupa bertanya pada diri sendiri sesungguhnya di manakah tempatnya jika ingin menjumpai Allah, DIA yang menciptakan kita, Maha Pemberi Rezeki, tempat kita bersandar tatkala hati ini butuh ketentraman… Tetapi seringnya kita lupa untuk bersyukur karna seolah DIA tak pernah ada di antara kita?, Kita kebingungan karna kita jauh dari-Nya hingga hati kita dipenuhi dengan kefakiran dan tangan kita dipenuhi dengan kesibukan.

Sebagian menganggap Allah itu hanya dekat dengan Kabah dan Madinah, hingga ummat yang mampu selalu berulangkali melakukan haji dan umrah yang bernuansa jika ingin berjumpa dengan Allah itu sangat mahal dan jauh jaraknya.

“Temuilah AKU di tengah orang-orang yang sedang luka hatinya…” (Hadits Qudsi)

Padahal jika memaknai dan mengamalkan hadits Qudsi di atas jelas sekali Allah Swt sudah lama menunggu kita di tempat-tempat orang-orang yang sedang sakit, kelaparan dan kehausan, Allah menunggu kita dengan stok pahala yang tak ternilai harganya.

Sahabatku… Semoga kita termasuk kaum yang tidak kebingungan, Mari temui Allah di gubuk-gubuk si miskin, di tempat orang-orang yang sedang luka hatinya, di tengah orang-orang yang terkena bencana…


Wassalam,

Kang Eded – Kurir #SedekahRombongan

Thursday, November 5, 2015

DI ATAS BAITULLAH ADA BAITUL MA'MUR


SAAT aku menatap langit Masjidil Harom, tepat di atas area Thowaf, baru kusadari bahwa ternyata tidak ada bintang. Rasa penasaran itu terbawa sampai pulang ke rumah karna saat ku melihatnya adalah hari-hari terakhir jelang ke Madinah, karna memang hanya sekali memandang dan terbawa penasarannya hingga kini. Saya coba mencari ilham lewat Google, sebuah Search Engine… Allahu Akbar… ternyata di lapisan langit ke tujuh itu ada wahana yang di sebut Baitul Makmur (QS.52:4-6), di mana posisi Baitul Makmur itu tegak lurus sejajar dengan Kabah dan 70.000 Malaikat berthowaf. (Ibnu Katsir).

"Dari Ibnu Abbas: Ia adalah rumah yang di sekitar 'Arsy yang dimakmurkan oleh para malaikat. 70.000 malaikat sholat di situ setiap hari kemudian mereka tidak akan kembali. Demikian juga pendapat Ikrimah, Mujahid dan banyak para Salaf".  Berarti bintang-bintang itu tak nampak karna terhalang para Malaikat yang sedang thowaf....?, Wallahu A’lam.

Bismillah… Tak terasa sudah hampir setengah bulan kepulangan kami ke tanah air dari beribadah haji tahun ini, Alhamdulillah membawa lelah yang nikmat serta terpenting kepuasan dalam beribadah fisik selama hampir 40 hari di dua kota Haramain, semoga ibadahnya hajjan mabruron wa dzanban maghfuron. Masih kadang  terbawa suasana aktifitas di kota suci yang terbayang di pelupuk mata, dari berjalan kaki Mina Jamarat yang belasan kilometer yang banyak menguras tenaga, Wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, Nikmat beribadah yang tiada tara, Puas menangis dan seolah banyak beban terlepas, terasa Allah begitu lebih dekat dibandingkan dekapan istri tercinta. 

Sengaja kata-kata sederhana ini saya rangkai untuk mengapresiasi seluruh teman-teman Johar 37 yang begitu kompak dan sebagai bentuk rasa syukur yang saya tuangkan dalam tulisan ini atas kelancaran ibadah kita semua dan selamat sampai tanah air.  Kesempatan diberi waktu serta kemampuan bersama istri tercinta beserta seluruh Rombongan Angkatan ke-37 PW Persis Jakarta atau Johar 37 untuk bersama-sama mensujudi 2 mesjid harom di kota Mekkah dan Madinah serta situs ibadah Armina dan beberapa tempat ziarah yang kami kunjungi.

Suasana kekeluargaan yang begitu guyub menjadikan sebuah energi yang kuat luar biasa mendidik mental kita untuk saling berbaik hati, berhati-hati, bersabar, sopan, saling membantu, menjadikan kenangan yang wajib tidak boleh dilupakan dan kita tingkatkan pada pengamalannya di luar kota Haramain. Saya bahagia saat di Mekkah dan Madinah walau tidak maksimal bisa membantu Ketua Rombongan, Ketua Regu, Teman sekamar, Teman serombongan dan mencucikan baju untuk istri tercinta yang jarang sekali dilakukan sebelum berhaji, bahkan saya bisa presentasi dalam kamar hotel tentang Gerakan www.sedekahrombongan.com yang saya bawa. Semoga ini semua bagai manifestasi kecil mirip dengan keluarga Ibrahim yang saling berbuat baik, menyayangi dan melindungi karna Allah, Amiin.

Saya bersyukur karna ini mimpi yang menjadi nyata, dapat melakukan ibadah ritual yang paripurna ini karna mendapat bimbingan dari sebuah KBIH yang bertanggungjawab secara lahir dan bathin. Dengan misi menyelamatkan ketauhidan dengan tatacara Rasulullah. Ibadah haji mungkin sesuatu yang biasa jika dilaksanakannya hanya mengandalkan fisik dan kemampuan finansial, namun yang kita rasakan dengan persiapan latihan manasik yang intensif, kesiapan mental dan sesuai tuntunan akhirnya menjadi suatu yang penting luar biasa dan ilmu yang sangat mahal harganya bagi keikhlasan ibadah.

Sebagaimana berita yang kita dapatkan dari tanah air, Haji tahun ini penuh dengan tantangan. Cuaca panas yang menghujam bumi Arafah, musibah saling beruntun, menelan korban hingga ratusan jamaah dari dalam dan luar negeri. Namun kita tidak dapat berbuat banyak kecuali melanjutkan ibadah, mengikuti peraturan dan arahan dari para pembimbing dan mendoakan para syuhada-syuhada yang meninggal dalam berhaji serta bersyukur kita terselamatkan. Islam dengan ibadah hajinya membuat gempar seluruh isi bumi, tak kan pernah ada manusia berkumpul dalam jumlah yang berjuta-juta dalam satu tempat dan waktu yang bersamaan. Bahkan mungkin jika dilhat dari bulan akan terhampar formasi warna putih yang mendominasi bumi sebagai replika Padang Mahsyar.

Begitu banyak keadaan yang baru kita jumpai baik saat di Mekkah dan juga di Madinah, sebelumnya memang telah diinformasikan saat pelatihan manasik haji beberapa bulan lamanya. Yang terpenting dalam beribadah haji terjaga akidah dan adab-adabnya selain bagaimana kita harus bersikap baik, berkomunikasi, saling membantu dan itulah implementasi yang sesungguhnya selain kewajiban kita pada Fardhu Haji serta untuk tidak Rafats, Fasik dan Jiddal (QS.2:197), karna janji Allah jika kita taqwa melaksanakannya maka jaminannya adalah dihapusnya dosa-dosa kita. Mekkah adalah kota suci yang terjaga dan daerah terlarang untuk berperang, berprilaku dzolim, membunuh binatang yang bukan peliharaan dan berbuat dosa lainnya, bercermin dari kisah awal pendirian Kabah dan setelah wafatnya nabi Ibrahim dan Ismail AS beberapa Kabilah bergantian berkuasa sebagai pemegang kunci Kabah dan diantaranya ada yang memiliki niat yang buruk atas pengelolaannya maka langsung dibayar kontan siksaannya oleh Allah (QS.22:25).

Seperti yang kita mengerti bahwa Haji adalah puncak peribadatan para kaum muslimin, pelengkap kesempurnaan Rukun Islam. Sebuah perintah napak tilas agung Nabi Ibrahim AS serta istri dan anaknya dalam perjuangan mempertahankan ketauhidan pada Allah (QS.22:27). Kita tidak tahu sudah berapa juta bahkan milyar umat islam selama hampir 15 abad melakukan kunjungan ke tanah suci, melakukan thowaf mengelilingi Kabah, membuat suatu energi magnetik yang searah dalam kebaikan bersama memuji Ilahi. Dan ritual haji ini yang pada awalnya Ibrahim AS sebagai trend-setternya,  seorang manusia yang mulia yang lulus dari ujian untuk mengESAkan Allah - Paska Ibrahim dan Ismail wafat, Thowaf sudah bercampur kemusyrikan – beberapa Kabilah hingga berperang memperebutkan posisi juru kunci, hingga yang terakhir keturunan Ismail dari Kabilah Quraisy yang dipimpin oleh Qussay dan Abdul Muthalib menjadi pemegang terakhir yang juga merupakan Klan Rasulullah. Namun Kabah tetap disandingkan dengan berhala yang juga sama-sama ikut dithowafi oleh para penganut Paganisme, hingga Allah memerintahkan Muhammad untuk memurnikannya lagi dan menyempurnakan peribadahan haji ini dengan rangkaian peran Siti Hajar, Ismail AS dan Muhammad SAW. Maka wajarlah Allah memberikan kedudukan istimewa pada mereka dimana kita semua yang menyembah Allah tak pernah berhenti dalam setiap tahiyat sholat kita sholawat untuk kedua manusia istimewa tersebut beserta keluarganya. 

Dari riwayat yang saya baca tentang SEJARAH KABAH DAN HAJI, Lebih 4.000 tahun yang lalu Kabah didirikan oleh Ibrahim beserta anaknya, Ismail. Atas perintah Allah agar bersatu menjadikan Kabah sebagai poros Tauhid untuk dikunjungi umat manusia dari seluruh penjuru dunia, sebuah Rumah Allah yang menjadi patokan arah sujud Islam (QS.5:97). Berawal dari Siti Hajar, Istri kedua Ibrahim, Ibundanya Nabi Ismail AS… Seorang gadis mantan dayang-dayang Firaun yang diberikan untuk membantu Sarah istri pertama Ibrahim, hingga keduanya dinikahi dan kemudian suami mereka memisahkan tempat bermukim keduanya, Sarah di Palestina dan Hajar di Mekkah atau Bakkah waktu itu. Siti Hajar ditinggalkan bersama bayi Ismail di belantara padang pasir yang panas dan tidak memungkinkan manusia dapat bertahan hidup. Namun karna ketaqwaan mereka maka Allah melindungi Siti Hajar dan Ismail kecil sebagai 2 orang insan pertama yang tinggal di Mekkah, hingga Allah jadikan lembah sempit yang dikelilingi pegunungan batu dan dulunya gersang kini memiliki sumber air suci Zamzam yang tak pernah habis dan terus melimpah, menjadikan kota yang kini banyak dikunjungi orang yang beriman dan kota yang dimakmurkan. 

Demikian beberapa paragrap yang saya ringkas dari riwayat dua kota suci dan sejarah ibadah haji yang membuat saya merasa yakin atas ketauhidan yang mengikhlaskan saya untuk niat berangkat bersama Istri, Paman serta saudara-saudara Johar 37 pada musim haji tahun 2015 ini yang sudah kita lakukan. Sangat banyak yang perlu ditulis tentang pengalaman berhaji yang kita alami karna mungkin tidak akan cukup dirangkum dalam beberapa helai halaman, beberapa kejadian yang membuat kita menyebut kebesaran Allah, yang membuat kita rindu untuk kembali. Hanya wajib bersyukur yang harus kita lakukan, kelancaran prosesi ibadah yang kita dapatkan, keselamatan yang kita peroleh, dapat kembali berkumpul bersama keluarga. Bisa bercerita tentang poros bumi yang banyak diagungkan umat, tentang suatu situs yang tak terhalang untuk doa yang diijabah. Pestapora doa kita sampaikan pada Allah: Doa pertobatan, doa untuk orangtua, untuk anak-anak kita, saudara, teman-teman, doa-doa titipan, doaku hingga para pasien #SedekahRombongan agar disembuhkan yang saat ini saya sedang berkhidmat untuk mereka, serta para Kurirnya agar diberikan kesehatan dan kesejahteraan pun tidak lupa untuk doa titipan agar mendapatkan jodoh yang diinginkan.

Semoga buah tangan keimanan ibadah berhaji yang sudah kita bawa tertancap di hati, menjadikan Persaudaraan kita semakin hakiki, menjadikan kebaikan dalam keluarga, masyarakat, yang membuat nyata Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin, sebagai investasi bekal di Yaumil Akhir nanti. Terima kasih kepada PW Persis Jakarta yang telah menyelamatkan akidah kami dalam berhaji, kepada semua para pembimbing baik yang di Indonesia maupun di Saudi Arabia. Semoga tulisan ini sebagai pelengkap doa untuk semua yang telah ikhlas bersama-sama mengantarkan kami ke proses ibadah yang sesuai dalam Sunnah Rasulullah.


Billahi Taufiq Wal Hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullah…

Kang Eded | Crew Jemput Nasi Jamaah Johar 37

Monday, August 10, 2015

TEMBUS LANGIIIT... BANDUNG JUARA

“Kang, RINTA belum bisa move-on dari suasana Milad 4 #SedekahRombongan… Kereeeen pisan euy… Terkesan sekali, dan tak semuanya bisa diucapkan dengan kata-kata makanya ditulis di http://www.kompasiana.com/rintawulandarii langsung…!”. Begitulah kurang lebihnya gabungan dari penggalan chat Whatapps antara Rinta dengan saya, baru beberapa bulan ikut gabung di #SR dan diparipurnakan dalam wahana komunikasi MILAD 4 #SR – Rinta menyimpulkan rasa syukur sudah terhubung dengan #SedekahRombongan, ketemu orang-orang hebat, orang-orang kaya dari seluruh Indonesia yang bekerja berombongan menyayangi para dhuafa sakit.

@rintawulandari, seorang perawat muda lulusan Poltekes yang bekerja di salah satu rumah sakit besar di kota Lampung adalah juga seorang Kurir #SR di daerahnya seperti kita semua para Kurir #SR. Semoga ia beserta teman-teman di Lampung terus menjadi matahari yang menghangatkan para kaum dhuafa yang sedang berihtiar melawan sakit. 
Ya memang, baru saja semingguan berlalu sebuah perhelatan akbar untuk kalangan relawan #SedekahRombongan seluruh Indonesia. MILAD 4 #SR di Cikole Lembang Bandung, Sebuah wahana komunikasi langsung antar kurir, sebagai jembatan saling mengenal dan berinteraksi walau dalam waktu yang sangat singkat. Terasa dikumpulkan secara alami orang-orang yang selama ini mengisi kebahagian para pasien miskin di daerah-daerah, layaknya MUKTAMAR sebuah ORMAS dan lebih definitive “Orang-orang kaya sedang mengadakan acara silaturahim”.

Adanya Out-put yang berdampak sukses pada Milad 4 #SR tentunya dikemas oleh segelintir orang-orang yang bergenre PANITIA MILAD 4, inilah topik tulisan yang saya kemas sebagai apresiasi untuk Kurir #SR menjadi Panitia MILAD 4. Yang membuat MILAD mengesankan, merindukan, membakar semangat semuanya… Begitu katanya, Alhamdulillah.

Saat hajat giliran ini dikumandangkan setahun lalu di Jogjakarta, dan Jawa Barat ditunjuk sebagai HOTSPOT Milad 4 maka Bogor adalah kandidat pertama untuk digelorakan. Namun dengan pertimbangan Kurirnya kang Guguh yang tidak banyak dan Lokasi yang tidak dapat menyangga integrasi kedatangan tamu dan agar well-organized mentreatment tamu maka situs miladpun beralih ke Lembang Bandung. Sebuah lokasi hutan pinus petilasan pemerintah kolonial belanda, tempatnya natural, tanahnya korugatif berbukit dan udaranya dingin menusuk tulang.

Hari kedua Ramadhan adalah Kick of Meeting Panitia yang melibatkan beberapa ragam kurir kabupaten, kita pusatkan acaranya di dekat Grand Depok City. Sebuah warung bakso malang milik @wirawiry seorang kurir Depok yang setahun ini pasif bergerak karna kesibukannya, maka biarlah momen KOM Panitia ini sekalian ajang melipat-lipat pahala… Ya Bukbernya, ya Silaturahimnya, ya bikin warungnya si @wirawiry laris dan terkenal…

Formasipun terekam, Kang @cucucuanda sebagai putra Bandung asli berperan sebagai Ketua Panitia Milad dan sedangkan aku sendiri menjadi Sekretaris yang secara defacto sebagai Sutradaranya. Disambung kebawahnya rangkaian-rangkaian seksi-seksinya yang kita putuskan berfalsafah “We’ll put the right man on the right place” :
  1. @abahlutung beserta @ambulutung yang biasa sehari-hari masakin pasien kanker jadikan seksi konsumsi dibantu mbak Endang Wahyuni yang rempong tapi very helpful,
  2. Acara kita gabung Kurirwati yang aktif dan rame: @mustikanoverita - @rianananudz dan the tough girl @nanabagio 
  3. Dekorasi kita percayakan pada Azep Bima and The Gang yang sehari-hari mengerjakan design grafis di Bandung, Beliau bawa ikon Jabar yaitu tokoh wayang Chepot yang kalo disidik-sidik emang mukanya mirip kang Asep. 
  4. Akomodasi, kita berikan kepercayaan pada @avinptr yang kata orang sunda someah dan luwes seperti reseption hotel. 
  5. Transportasi kita plot pada @omguguh yang memang bercita-cita ingin punya armada transportasi ratusan unit dan hobbynya bikin berisik jalan dengan sirinenya dan @bratamanggala yang sangat performed mengorganize kebaikan hingga ke belahan pulau Papua. 
  6. Keamanan kita sematkan lencananya untuk orang-orang yang berwajah pas, sangaaaar mirip kang Murad di Preman Pensiun dan tegas yaitu kang @deri_darusman @asepAKBP 
  7. Kesehatan/P3K, dihandle dr.Widhi, Rinta, Sasa dan parakanca yang cantik-cantik.. dan berimbas yang sehatpun ingin dirawat. 
  8. Perlengkapan sengaja kita pilih wajah-wajah yang bisa kita kenal suka ngumpulkan barang-barang bekas berkwalitas yaitu @mardisay – Dodo Sarkado yang memang account twitternya saya males nyebut… Susah, lebay dan gak berarti… 
  9. dan seksi-seksi lain-lainnya..
Walau pada kenyataannya kita saling membantu antar seksi, menopang tanpa keluh kesah yang dirasa, begitulah… Karna doktrin yang dipegang panitia adalah: Making BANDUNG JUARAAA, Tamu harus bahagia dan Panitia tidak boleh leha-lehaaa… Alhamdulillah, hanya perlu 5 kali meeting di Cikole dan meeting kelima adalah saat seminggu sebelum perhelatan dilaksanakan. Kita sudah siap 90% baik sarana dan prasarana hanya tinggal 10% terkait pembiayaan milad dan konfirmasi para tamu khusus yang membuat kita belum tenang. 

Jumat, 31 Juli 2015, Beberapa Kurir Panitia sudah mulai ada yang bergerak ke Lembang Bandung, termasuk saya ditemani kak @robbyadiarta kurir Kudus yang sejak kamis siang sudah mendarat di HalimPK dan @SahuriNur admin Webnya #SR. Kami sampai di DarutTauhid langsung berkordinasi dengan @omguguh cek kesiapan penginapan sementara tamu, makan siang lalu langsung ke TKP Cikole. Jelang Ashar terlihat di Blok E kawasan kamping Cikole Jayagiri Resort telah berdiri puluhan tenda dan instalasi stage yang akan selesai, sekitar 20 kurir lebih bersama-sama saya kerahkan untuk memulai mendirikan Photo Booth, Banner, Backdrop dan Signboard untuk memudahkan peserta milad besok terpandu.

Bismillah, Jumat malam penghujung Juli 2015 hingga 1 Agustus 2015 Sabtu pagi dan siang… Para tamu dijemput dan saudara-saudara kita kurir dari luar kota Bandung berdatangan: Jateng, Jatim, Surabaya, Malang, Pantura, DIY, Jabar, Lampung, Balikpapan, Pontianak, Batam, Maros, Makassar, Palu hingga ustadz Dayat yang sedang berlibur dari kuliahnya di Madinah dan Frids Soleman Lumba – Seorang Pendeta dari Papua yang sudah 2 tahun lebih menjadi Kurir di Bumi Cendrawasih. Dahsyaaaaattt…

Sumringah, senyum lebar saat kaki pertama menginjak Cikole Jayagiri Resort semua kurir kurir saling berpandangan, berpelukan dan suasanapun menjadi ramai riuh rendah suara tak beraturan. Seksi konsumsi dibuat kalang kabut karna keluar dari skedul yang datang langsung dini hari untuk dijamu sarapan diluar rencana hingga mencapai 80an orang, dalam kekhawatiranku ada kata biarkan saja mbak Endang Wahyuni, @nanabagio dan @SuharnaYana menanggung malu jika tidak militan menyiapkan sarapan pagi tamu.. hehehehe… Cuciaaaan deh luh…

Sementara, Nguing-nguing sirine 8 unit ambulance dan 1 Ford Ranger lengkap dengan lightbarnya sedang membelah kemacetan Sukajadi – Lembang. Praktis 20 menit dapat menambah lengkap jumlah peserta milad yang lebih duluan datang, lanjut ke Camp Zone Blok E, bersama-sama mengangkut barang, mengisi daftar tamu, melihat daftar tenda… Whuihhh kereeen Panitia – Ada signboard Toilet Wanita dan Pria, P3K Kesehatan, Mushola, Nama-nama peserta di group tenda, Dapur Konsumsi, dll…  Sangat explaining kata kak @robbyadiarta, ini mungkin yang bikin @rintawulandari gak berenti-berentinya ngetik dan belum move-on dari suasana milad. 

Sabtu, 1 Agustus 2015, Tepat jam 12.00. Aku, @nanabagio si bawel yang ngangenin sekarang… si Tough Girl yang masih mikirin milad padahal besok tanggal 2 harus terbang ke Korea untuk memulai kuliah S2nya. Ditemani mas @mawanhananto KorKab Wonogiri - kami OPENING MILAD 4 #SR, kami greeting, welcoming speech dan membacakan rangkaian jadwal milad serta petunjuk untuk peserta, sementara panitia lainnya mulai dengan kesibukannya… P3K mulai menerima pasien yaitu kurir yang muntah-muntah kelelahan dari perjalanan hingga yang tak tahan udara dingin dan aku, mas Mawan serta kawan yang lain bergantian bernyanyi diatas panggung, sebuah perhelatan unjuk suara para penyanyi AMI AWARDS dadakan Kurir #SR yang pasti sebagian penontonnya ada yang tidak suka mendengarkan suaraku dan lebih memilih main PaintBall.


Setelah Maghrib berjamaah, puncak acara dimulai ba’da Isya, dibuka Trio MC Nana 1, Ove dan Dedy Fals, turut hadir memeriahkan suasana si Panglima #SR @Saptuari dan kek @JamiAzzaini di tengah-tengah acara, sementara aku di samping panggung yang sebentar-sebentar dipanggil MC untuk konfirmasi - Padahal hatiku sedang galau karna jelang Maghrib Sekpri Wagub Jabar menginfokan kemungkinan gagalnya bang Deddy Mizwar hadir sesuai rencana, aku tetap berkordinasi dengan Gus Nas yang begitu dekat dengan bang Deddy. 

Riweuhnya lagi terasa saat dikabarkan, katanya Kurir Tasik Ade Buser habis Paintball badannya meriang tapi sudah diobati dr. Widhi dan suspect sementara teman setendanya yang semuanya mahluk primitif anak buah kang @luchakiem yaitu KULIR Tasikmalaya: Reza, Miftah, Adi dan Kiner katanya Ade Buser kemasukan mahluk halus, aku langsung tenangkan Ade dengan menjelaskan ketauhidan pada Allah… Bahwa kamu kelelahan dan bukan kerasukan setan.. Itu Mustahil… Masa setan kemasukan ke setan? Jeruk makan jeruk dong… Akhirnya Ade sembuh dan bersaksi di acara milad. Jam 20.30 Protokol Wagub menghubungiku dan membuat sedikit bahagia walau kata-katanya belum menjadi garansi Wagub hadir, aku susah payah berjalan ke depan halaman parkir depan kantor ditemani kang Aif yang setia menemani. Kami langsung ketemu pak Imam Protokol Wagub dan menjemputnya ke lokasi Milad seraya berkata, “Kang Eded, Protokol harus sudah meninjau lokasi dan stembey menunggu walau Wagub datang atau tidak jadi mohon maaf saya izin berada disini!”. Kita siapkan kopi hangat segelas di meja makanan belakang para peserta.

Rangkaian acara berututan tertib terlaksana, hingga pukul 21.30 kang Imam menerima telpon dan menyampaikan padaku, “Kang, Wagub confirmed hadir, sudah jalan dari rumah dinas barusan. Yuk kita jemput ke depan.!”. Aku langsung semangat padahal lelahnya belum hilang setelah hari ini sudah 2 balik dari gerbang Cikole Jayagiri ke Blok E, Seksi keamanan dan acara kuhubungi. Selingan seksi konsumsi nyelak perjalananku menanyakan bisakah masakan mereka disajikan sekarang? Masya Allah… Semua panitia konsisten.

Ngasngesngos paru-paruku bekerja, di kegelapan perjalanan yang naik turun bukit ke gerbang terlihat BASIL si seksi obor, mahasiswa Bandung adiknya kang Zarkoni sedang memperbaiki obor yang jumlahnya hampir 50an. Gila neh anak…! gak bawa teman dan cuma sendirian aja di kegelapan hutan gak takut JIN apa?. Dalam hatiku bangga berkata, “Basil kamu saya marking akan dilibatkan lagi buat acara selanjutnya nanti, yaitu menyambut Presiden RI di Milad yang akan datang. Tapi tetap kamu BAGIAN OBOR…”. Tak sampai setengah jam tiba di front office Wagub tiba dikawal Voorijder dan sebuah mobil lagi dibelakangnya berhenti bersamaan, Protokol membukakan pintu dan Wagubpun keluar bersama waktunya dengan pintu depan pengawalnya terbuka. Senyumnya keluar mengucapkan salam dan berkata, “Sehat luh ded?”, yang langsung aku salami dan peluk seraya menjawab salam. Alhamdulillah, Kita berjalan hampir 15 menit sampai Blok E dan sesi acara waktu itu sedang diisi kek Jamil dan kek Jamil mendadak menghentikannya untuk menyambut Wagub Jabar DEDDY MIZWAR. Suasanapun tambah menghangat kedatangan JABAR 2 yang juga aktor film yang fenomenal.

Badanku tak dibalut baju dingin karna masih berkeringat tapi terpaksa harus langsung menemani Wagub NAGA BONAR, Gus Nas, kek Jamil, Ustadz Mujawid dan Frids duduk paling depan saat mas @saptuari menjelaskan selayang pandang #SR pada Wagub. Hingga di luar konsep acara mas @saptuari minta aku memberikan tambahan sambutan dengan #SR di Jawa Baratnya, spontan saja aku tersedak saat menikmati ubi rebus yang belum sempat aku telan. Kontan susah nafas, mata melotot berair campur nervous di depan Wagub, namun ini malah menghangatkan suasana dimana terkesan ada adegan lucu saat Kingkong (baca: mas Saptuari) memberikan minum padaku… Kalo kata kang Ade Buser, “Kang Eded kabuhulan euy…”.

Aku sampaikan sambutan dengan tidak formal, terkesan sambutan keluarga yang sudah lama dikenal, dengan retorika kampungku yang susah menghindar dari guyon. Tapi kata teman-teman itulah pidato yang mencairkan kebekuan acara… Hangat dan akrab hingga Gus Nas, kek Jamil terbahak-bahak…! Best Speech of mine… Luar biasa kang Eded pidato di depan orang-orang hebat: Wagub, Motivator Jamil dan Kyai/Budayawan Gus Nas… Apa Iyaaa bro?.

Panitia sangat sigap mengiring semua acara dan aktifitas dengan mulus, aku tak sempat lagi melihat satu-persatu tim terbaikku… Kemana Deri, Guguh, Brata, Zarkoni, Abah, kak Endang, Dll? Oh iya aku lupa mereka semua sedang dapat tugas pengawalan dari KANG BAHAR. Hingga lepas acara Wagub menyempatkan waktu luang berphoto dengan para peserta Milad hingga sempat melongok seksi dapur yang kebanyakan orangtua para pasien kanker RCAK yang juga jejaring #SedekahRombongan binaan @abahlutung. Tengah malam kembali 1 kali bulak-balik ke depan gerbang Cikole melepas Wagub pulang ditemani Gus Nas dan para seksi keamanan yang berbekal lampu senter, momen indah yang entah kapan lagi kita bisa bersama beriringan bersama bang Deddy Mizwar yang juga berucap, “Malam ini saya bahagia bisa berkumpul dengan orang-orang kaya yang membahagiakan dhuafa…! Allahu Akbaaar… Terharu… Ingin menangis, ternyata kita ini orang-orang kaya, yang memiliki kekayaan jiwa yang tak terbatas…

2 Agustus 2015, jam 05.00 pagi. Baru saja aku tidur yang tak begitu nyaman selama 3 jam satu tenda berdua bersama kang @dadang_alatif. Kang @dadang_alatif yang memang sudah seminggu jelang hari H setia begadang bareng aku menyiapkan property milad, karna dingin yang mencapai dalam tenda hingga 16 derajat celcius, Aku terbangun dan melihat jam tangan… Terbangun karna mendengarkan suara beberapa orang yang sedang ramai berbicara mengelilingi api unggun, aku keluar tenda duluan dan niat mengambil wudhu untuk sholat subuh. Benar saja disana ada panitia-panitia cerewet: @nanabagio alias Ratna Komalawati alias Nana 1 alias Kokom dan @AkuoKawai alias dokter Widhi yang sedang SIDURU atau menghangatkan badan di depan kayu bakar yang menyala bersama teman-teman yang lain, sebagian lagi sedang sholat berjamaah pada tempat yang berdekatan. Ratna dan Widhi memang semalam izin akan pulang dini hari mendahului yang lain karna Ratna sorenya harus sudah dalam flight ke Korea dan Widhi harus sudah di Lampung besok untuk “SOEMPAH PENDOKTER”. Berombongan dengan Linda, Sahuri dan lainya merekapun pulang duluan, Thanks a lot ya Rat, Wid.. juga teh Lince yang selama ini mendukung Panitia on side behind the scene bareng Bunda Leutik @zerinabanu… Sukses acara semalam gara-gara kalian, gara-gara Nana 2 juga yang gak hadir karna sakit tapi semangatnya terasa, gara-gara Ery, Diah Ayu dan lainnya.

Hingga jelang siang, Udara masih dingin menghujam badan dan bau tanah bercampur rumput dan pepohonan tercium jelas akibat pancaran matahari. Satu persatu, puluh perpuluh hingga ratus perratus peserta izin meninggalkan lokasi milad sampai kami panitia menyelesaikan administrasi dengan pengelola Cikole Jayagiri Resort. Ada asa yang masih melekat tertinggal di pikiranku karna belum semua berkomentar, semoga para tamu puas dengan treatment kami para panitia, Panitia yang menjadi andalan acara, Panitia yang semuanya kerja keras dan Ikhlas. Semoga lelah ini tergantikan doa, pahala dan ilmu yang bermanfaat.

Terima kasih TIM SOLIDku, Panitia Milad 4 #SedekahRombongan… Sampai jumpa di Milad 5 di Semarang. I love you all…

From Kang Eded - Preman Pensiun