Monday, June 29, 2015

KADO ULTAH TERINDAH



MEMANG, nampaknya BAHAGIA bisa kita peroleh dari hidup kita yang kaya, serba memiliki, punya keluarga yang menyayangi, berprestasi di sekolah, berpendidikan yang tinggi dan dari universitas negeri dan bermutu, unggul di perusahaan... Seolah semua yang kita inginkan dapat kita raih dan jika belum semua kita dapatkan rasanya belum lengkap kebahagiaan itu mengisi rak prestasi kehidupan kita.

Saat itu tahun 2006, Aku masih bekerja di suatu perusahaan swasta dengan core business Telco Industry yang memiliki 200an Karyawan. Jabatanku Manajer Operasional dengan upah take home pay sebesar XX.000.000 perbulan, memimpin Technic Operational Department mencari income untuk keberlangsungan perusahaan melalui proyek infrastruktur selular. Rasanya tak ada yang kurang masa itu dengan gaji tersebut menghidupi istri dan 2 orang anak. Jadi idola karyawan, diperhatikan pimpinan, dihormati teman-teman, kerjanya meeting  dan inspeksi ke site, buat budgetary cost dan planning, entertain client, golf driving...

Sebagai perusahaan installation service, omzet pertahun cukup lumayan : 25-35 milyar setahun. Sangat luar biasa tanpa material contain keuntungan perusahaan mencapai 50% pertahun. Di situlah saya jadi public figure yang sangat dihormati karna prestasinya, sampai owner perusahaan berkata, “Kamu gak boleh sakit, kamu pergi sana ke dokter pribadi saya..!". Agak sombong bahasanya sampai gak boleh sakit, Kebetulan Dr. dr. Hermawan itu bekas dokter pribadinya mantan presiden Soeharto.

Potong kompas, Saat itu minggu awal Ramadhan datang… Tender Inbuilding Construction 2006 dimulai dan semua new and existing vendor memasukan dokumennya, tidak ketinggalan perusahaan aku. Begitu percaya diri dalam hati, pasti kita akan memimpin lagi karna 3 tahun berturut-turut selalu jadi yang terbaik, baik finansial maupun teknis isu.

Namun kenyataan yang didapat di luar dugaan, Tender diumumkan dan pemenangnya 8 perusahaan yang di dalam lisnya tidak terdapat perusahaanku, perusahaanku kalah dalam tender itu dan akulah orang yang pertama panik. Bagaimana aku melaporkan ini pada Bos, karyawan bakal banyak nganggur ini,  wah aku pasti kena damprat, bakal digampar bulak-balik deh...

Beribu-ribu perasaan takut, salah dan penuh tanda tanya saling bersahutan dalam kepala, “Mana mungkin kita yang selama ini leading dalam prestasi dan membawa kwalitas bisa kalah?”. Aku hampir saja membatalkan puasa, untuk memesan kopi dan menyulut rokok untuk saat itu dirasa lebih kongkrit menenangkan hati. Sampai di kantor aku sudah kedapatan lembaran konfirmasi dari faximil, konfirmasi pemenang dan pengalah tender yang sudah ditandatangani PETINGGI PERUSAHAAN SINGAPORE yang tersohor itu. Malas aku membacanya lagi...!. Terlintas pertanyaan kufur yang menguatkanku bertambah disorientasi, “Kehidupan rohaniku baru mulai belajar tertib, kenapa malah aku dijauhi rezeki yang berkah..? Saat Ramadhan pula… Allah itu jadi meragukanku lagi.

Tapi pikiran baik terus membelaku, aku gak boleh terus jatuh dan tengkurap, aku harus bangun dan gak boleh menampakan kesedihan… Aku ini pemimpin, pemimpin anak dan istriku, pemimpin departemen teknik perusahaanku. Maka aku malah sholat dan beribadah tambahannya makin diperhatikan, hingga saat setiap jamaah subuh hampir setiap hari air mata ini menetes dan betul-betul membasahi. Dalam alunan ayat alquran yang Imam sholat bacakan, selalu terganggu protes dari dalam hatiku dan pesan untuk sang maha pembolakbalik hati, “Tuhan, apapun ujian yang Kau berikan aku kan pasrah menerimanya namun tunjukan bahwa Kau pengampun, bahwa Kau pemberi kegembiraan… Aku perlu kebahagiaan, bukan harta tapi kebahagiaan hati yang engkau putuskan,”

Ramadhan hari ke sepuluh, batas akhir sepertiga bulan rahmat dan menyongsong sepuluh hari bulan pengampunan. Pagi itu bertepatan tanggal 4 Oktober 2006 adalah hari kelahiranku 37 tahun lalu, aku langsung bersedekah dengan melaksanakan dhuha sebelum berangkat kerja dan kupanjatkan ulang doa-doa yang mungkin Allah bosan mendengarnya.

Tiba-tiba selponku berdering dan aku langsung menjawabnya setelah ku yakin kenal dengan penelpon, Staf Procurement Perusahaan Singapore meminta aku segera datang ke kantornya. Kantor yang megah dan menjulang di seberang Monas yang menjadi land mark Jakarta… Niatku makin bersemangat kerja pagi ini, karna ada apanya procurement menelpon gak terlalu penting aku pikirkan. Toh tender sudah kalah, perusahaanku sudah jadi looser, yang terpenting bagiku harus tetap menyampaikan undangan buka bersama pada seluruh Divisi Project di Perusahaan Singapore itu sesuai rencana awal dan tetap mengalap berkah walau proyeknya kalah.

Masuk ke ruangan procurement sendirian karna adminku Sigit sengaja ku tinggalkan di ruang tamu, Ini meeting Group Head ternyata dan staf admin bukan kelasnya ketemu, ini kelasnya manager ke atas. 1 Group Head dan 3 Staf sudah ada di dalam, bingung… Ada apa ini?. Group Head Procurement langsung membuka pembicaraan meeting disaksikan beberapa manager, Dia langsung memintaku… “Pak, Bapak sengaja kami undang kesini karna kami perlu percepatan proyek, salah satu vendor mengundurkan diri karna tidak sanggup menjalankannya. Setelah kita rapatkan dan putuskan maka jika perusahaan bapak masih berminat ikut maka proyek akan kami berikan? Bagaimana?”.

Nafasku agak terhenti tarikannya, tak percaya ini mimpi atau nyata? Peserta tender yang surat konfirmasinya sudah ditandatangani oleh Pejabat Singapore sebagai peserta yang kalah, malah kini diralat. Lalu kujawab kesanggupannya dengan menyalami Bapak Group Head berulang-ulang. Aku keluar ruangan procurement sambil membawa bagian PO yang sudah ditandatangani bersama bernilai 8,6Milyar untuk diselesaikan time-frame 99 hari, ku temui Sigit di depan lobby dan tak sempat berkomunikasi karna aku langsung menangis dan bersujud syukur.

Pantai Ancol di Restoran Bandar Jakarta hingar bingar diisi suara music dan pengunjung, sekitar 250 orang dari karyawan kantorku dan para undangan buka bersama membuat meriah dan penuh rahmat jelang maghrib. Trending Topic saat itu tentang berita yang baru saja didapat atas keberhasilanku membawa manfaat perjuangan, Big Boss langsung menyambutku dengan pelukan, katanya, “Kalo doa orang banyak gak mungkin dicuekin Tuhan apalagi ini bulan puasa!”. Kata-kata berlogat betawi yang menggelitik diucapkan seorang big boss yang tidak seiman denganku tapi pernyataannya sungguh sangat beriman. Aku bertabayun dalam hati, walau kesimpulannya tetap karna Allah cuma dari mana penyebabnya? Apakah dari kesabaran, Ramadhan bulan rahmat, niat buka bersama atau terus berdoa hingga Allah bosan?. Yang pasti semuanya benar yakin dari Allah dengan semua ihtiar kita, aku diberi ujian diminta bersabar untuk memperoleh kebahagiaan. Caranya dibuat sulit dan berpikir dulu, meminta jalan keluar dari Allah.

Terasa hambar tak berasa… Saat Tuhan seolah tak menganggap kita, ya tanpa nafas Ilahi, tanpa ujian keimanan. Kecuali Kebahagiaan itu dapat kita rasakan saat melibatkan Tuhan, saat semua sendi kehidupan kita bermanfaat buat orang lain, Percuma punya uang banyak, ilmu yang tinggi tapi manifestasinya rendah. Orang lain tak dapat merasakannya. Terpentingnya lagi saat kita hadir orang lain akan bahagia walau tanpa harta dan tahta. Terpenting lagi dalam meraihnya tak ada yang gratis, semua lewat struggle of life, perjuangan yang berdarah-darah, bleeding... Karna nilai keberhasilan itu setidaknya melalui proses belajar yang berat dan diiringi doa ...

Sesuai SMS Rasulullah... Khoirunas Anfa’uhum Linnas... Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat buat orang lain...
Semoga kisah ini menjadi diinspirasi setelah membacanya, Kisah yang menurutku paling populer dalam hidupku, sebuah bantahan akan logika ilmu oleh keimanan, kisah tentang kekuatan bulan ramadhan. Ramadhan bulan penuh Rahmat, Maghfiroh dan dijauhi dari Api Neraka, bulan sebagai petunjuk kehidupan bulan-bulan selainnya. Semoga menjadi ilmu yang manfaat… Indahnya bila Ramadhan saat ini kita memperoleh kabahagiaan dari Allah, Amiin..

#SelamatBerpuasa

Kang Eded - Kurir #SedekahRombongan







Saturday, March 22, 2014

POLITIK ITU BURUK?


SEJAK kita mulai belajar di Sekolah Dasar dulu, kita anggap mulailah otak kita diformat oleh ILMU – Satu permulaan datangnya cakrawala pengetahuan mengisi sekat-sekat otak kita. Pelajaran Formal yang berstandar.pemerintah melalui departemen pendidikannya - bukan cuma membaca dan menulis yang kita peroleh namun juga kemudian ada beberapa pelajaran yang menuntun kita untuk dapat membuka dan melihat jendela dunia. Ada pelajaran Kesenian, Olah Raga, Sejarah, Ilmu Bumi, Agama dan lain-lainnya agar kita sebagai anak-anak kecil dulu dapat tumbuh besar dengan ilmu pengetahuan yang membentuk peradaban kehidupan kita.
Tak bisa dipungkiri dan silahkan bedakan, Jika kita dulu tak mengenyam bangku sekolah apa jadinya kita? Mungkin kita tidak akan memiliki pengetahuan yang segudang, berdampak diperlakukan tidak adil atau berprilaku yang kurang manusiawi dan hidup merasa terasing dengan cita-cita hanya cukup beroleh asal bisa makan dan bisa berkeluarga, merasa rendah diri dan merasa asing dalam komunikasi, Speechless.  Seperti Suku-suku yang hidup terbelakang yang masih ada di Indonesia, hanya menjadi obyek wisata penipuan oleh cukong-cukong yang merampas kekayaan alamnya. Itulah anugrah yang Allah berikan pada kita walau terkadang kita jarang berterima kasih padaNYA, diberi kemampuan berpikir dan bertindak, dapat membedakan besar dan kecil, tahu yang buruk dan yang baik, semuanya dengan ILMU.
Begitupun dalam menyikapi Politik, masih banyaknya opini buruk tentang makna politik - di obrolannya Warung Kopi,  Perkantoran, Pasar dan tempat-tempat lainnya. Padahal kita yakini interpretasi mereka tentang politik cuma didapat dominan dari media tentang pelakunya dan bukan tentang ilmunya yang harus dipelajari dan dimanifestasikan dengan baik. Dimana-mana citra POLITIK adalah KORUPSI, KOTOR dan KEJAM, begitulah kita mesti maklum melihat akibat non political will yang terjadi di masyarakat sebagian.
Pada semua organisasi kekuasaan besar yang ada di Planet Bumi yang disebut Negara, baik yang berbentuk Presidential, Kerajaan atau Monarki dan Presiden, Raja  atau Perdana Menteri sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan semuanya menggunakan Ilmu Politik untuk menjalankan sistemnya. 

Kata Teori Klasik Aristoteles, “Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama”. Tak disadari pula oleh rakyatnya bahwa politik itu telah memasuki sendi-sendi kehidupan mereka sehari-hari. Peraturan dibuat oleh Negara, Keadilan diatur oleh Negara, Pangan Rakyat, Keamanan, Pajak dan Kesejahteraan Rakyat, semuanya merupakan harapan warga negara yang dirangkum dalam Politik Negara karna menyangkut urusan orang banyak.

Jadi Politik itu tidak buruk, jika kita menyadari kebaikan yang ada dalam berpolitik serta kita bergerak dan bertindak untuk kebaikan bersama politik. Sebaliknya,  jika kita tinggalkan maka politik akan diisi oleh ketidakadilan - karna orang-orang yang tidak baik dalam berpolitik akan mengisi ruang orang-orang baik yang meninggalkan politik. Serta apakah dengan kita menghindari politik lantas Negara ini akan baik?  
Sebagai contoh realitas, Saat ini Jakarta dan beberapa Provinsi di Indonesia secara umum sudah terlihat mulai memudahkan masyarakatnya dengan perolehan Fasilitas Berobat dan Persalinan serta Fasilitas Belajar yang dibiayai oleh Pemerintah, artinya Pemerintah mengatur kemudahan fasilitas tersebut untuk masyarakat adalah produk politik. Lalu sebaliknya, apakah dengan menyumpah serapahi politik keadaan akan lebih baik? Tentunya tidak…
Mari sejenak berkontemplasi tentang bagaimana peran kita sebagai mahluk Tuhan dalam hidup ini, Allah menciptakan kita dalam keadaan yang sudah luar biasa sempurna dan sangat  lebih baik jika dibandingkan dengan mahluk lain ciptaanNYA. Kita diberi akal dan pikiran untuk dipergunakan bagi kemaslahatan sesama manusia sebagai bentuk rasa syukur kita. Menyegerakan kebaikan dan menghilangkan keburukuan, Politik akan menjadi sesuatu kemaslahatan jika di dalamnya bersanding orang-orang yang baik – begitupun politik akan buruk jika dikuasai oleh orang jahat dan kejam. 
Maka mulailah kita berprasangka baik dengan politik dan kita melakukan kebaikan dalam berpolitik agar hidup kita luas maksimal bermanfaat untuk umat, Ber-amar ma’ruf nahi munkar. Di zaman apapun orang yang tidak amanah selalu menorehkan garis hitam di kehidupan, namun justru putusan pengadilan buat mereka karna hadirnya orang-orang amanah yang berpolitik dengan baik dan menghapusnya. 

Mari berpikir apa yang seharusnya dan bukan yang senyatanya, karna itu akan mempegaruhi tindakan berikutnya. Bagi kita yang masih diberi usia muda oleh Tuhan, buatlah Tuhan bangga dengan ciptaanNYA sendiri karena engkau berani berbuat lebih dari biasanya. Berbuatlah manfaat untuk merubah aroma politik menjadi harum. DIA memberi kita akal, kaki dan tangan bukan untuk berdiam diri dan membiarkan keburukan merajalela. DIA memberi kita yang muda ini nafas yang kuat, energy yang meluap-luap dan dan pikiran yang liar bukan untuk meratapi dan bangga dengan yang minimal saja. Wallahu ‘lam…

Endorsement untuk Boyke Hasiolan Simanjuntak – Sahabatku ALUMNI SMPN 42, Jakarta, 1984. 
Caleg PDIP DPRD, Pemilu 2014. DAPIL 3 DKI Jakarta.

Tuesday, March 18, 2014

UNTUK GURUKU...!



ANGIN EUPHORIA Pemilu 2014 Indonesia sangat kencang sekali berhembus saat ini, Tinggal beberapa minggu lagi kita akan merayakan Pesta Besar Demokrasi Bangsa ini, Bangsa yang penduduknya majemuk dan termasuk penduduk paling padat di DUNIA. Bagi sebagian besar rakyat Indonesia, Pemilihan Umum Nasional yang akan diselenggarakan serempak pada tanggal 9 April 2014 adalah paling mutakhir, untuk memilih Calon Anggota Legislatif sudah berulangkali terjadi sebelumnya secara regular dan diselenggaran sejak berdirinya Republik nan Indah ini - Republik yang mempunyai sumberdaya Alam dan Sumberdaya Manusia yang banyak diminati Negara-negara di dunia. 
HANYA saja pemahaman politik belum menciptakan transformasi yang seimbang baik antara Partai atau Wakil Rakyatnya dengan Rakyat atau si Pemilih, begitu juga sebaliknya. Partai begitu gencar menjanjikan angan-angan untuk kesejahteraan Rakyat yang dibingkai dalam orasi-orasi kampanye partai, namun yang terjadi banyak semua itu menjadi janji-janji semu yang tak terbayar saat Aleg dan para Senator itu terpilih, kasihan nasib rakyat – Secara tidak langsung dieksploitasi untuk kepentingan cita-cita sang wakil rakyat berdasi yang duduk di gedung DPR/DPRD dan lupa dengan janji-janjinya. Maka kembali lagi si RAKYAT hidup normal dalam kesengsaraan, berbelanja kehidupan yang mahal tak terjangkau untuk : Kesehatan, Pendidikan, Bahan Pokok dan apalagi Kesejahteraan.

BOLA PANAS Politik yang melambung pada kehidupan rakyat adalah menjadikan sebagian rakyat sudah tidak perduli lagi pada pemilu dengan partai dan wakil rakyatnya, hembusan Komunitas Partai tak berkantor bernama GOLPUTpun menjadi wadah menarik yang tak beresiko. Provokasi untuk bersikap skeptis, apriori dan memilih golput santer beredar melalui media sosial, gadget dan alat komunikasi cepat yang ada saat ini. Entah… Apakah akan jadi manfaat atau madharat…?. Dalam bahasa Latin ada istilah, “PARS PRO TOTO” yang artinya “Sebagian Yang Mencerminkan Keseluruhan” – Mungkin itulah yang dipahami semua, Gara-gara beberapa orang korupsi, Partainya langsung dipandang berwarna hitam dan tak ada lagi harapan rakyat mencari partai yang dipercaya – Baik yang berbasis Nasionalis, Sekuler maupun Agama. Ditambah lagi kurangnya pengenalan ke bawah tentang siapa sesungguhnya calon anggota dewan yang akan mereka pilih, berinteraksi dan sama-sama memikirkan perbaikan masalah yang selama ini membebani rakyat di wilayahnya.

PARADOKS memang, Saat Negara menyediakan dana trilyunan untuk belajar pendidikan memilih pemimpin yang amanah dan baik namun disikapi dengan pesimistik. Maka gerakan anti golputpun menjadi penyeimbang untuk rakyat yang masih mengharapkan secercah cahaya di kegelapan, Mengajak rakyat untuk terus berASA merubah negeri ini lebih baik ke depannya. Lewat “YUK JANGAN GOLPUT…”.

TIDAK FAIR memang, Saat rakyat diprovokasi untuk tidak GOLPUT sementara Partai dan Wakil Rakyatnya terus menerus menahun tidak ISTIQOMAH memegang amanah. Sehingga sulit sekali saat ini mencari partai yang tidak korupsi. Utamanya jatah pendidikan dan kesehatan rakyat jadi berkurang karna disedot oleh koruptor yang ada di hulu hingga hilir, bahkan KPK menggolongkan Korupsi sebagai Kejahatan Kemanusiaan – Seperti membunuh atau lainnya yang mematikan manusia.
SAYA pun sama merasakan situasi itu sebagai rakyat, menjadi berperasaan yang disorientasi, “Ikut mencoblos atau Golput saja?. Jika Golput menang maka konstituen di DPR akan berkurang… dan Pemilu batal, Negara akan mengeluarkan biaya lagi untuk mengulang atau DPR nanti akan dikuasai oleh orang yang tidak amanah?”.  Haduuhhh binguuung… “Ah pasti masih ada banyak orang-orang yang semangat dan amanah menjadi anggota legislatif untuk kepentingan rakyat…!”. – Ya yang terakhir menjadi pencerahan buat saya pilih, minimal memberikan contoh yang baik buat  keluarga saya yang wajib mencintai Indonesia. Hitung-hitungan kecilnya adalah: Kami belum memberikan apa-apa buat Negara ini tapi Negara tetap memperhatikan kami walau belum sempurna…

BERAWAL dari pertemuan dengan mantan Guru Olahraga di SMPN 42 Jakarta, Pak ADI DASMIN. Kami sengaja janjian di daerah asal tempat kami dulu berperan sebagai Guru dan Murid, di PADEMANGAN – Dulu sekali, Tahun 1981 hingga 1984. Ia bercerita saat ini umurnya sudah 60 tahunan dan sudah pensiun belajar mengajarnya, Begitu juga Istrinya yang juga mantan Guru Ekonomi saat saya menuntut ilmu di SMP yang sama. Ujung pertemuan ramah tamah kami, beliau menceritakan maksudnya ikut berpartisipasi menjadi Calon Anggota Dewan (DPRD Jakarta) di salah satu Partai peserta Pemilu 2014 adalah ingin memberikan kontribusi kebaikan pada rakyat. “Anak-anak saya semua sudah mapan dan menikah, Saya dan Istripun sudah memiliki investasi dan pensiun yang sangat cukup untuk kami berdua. Saya prihatin melihat banyak anak-anak yang masih tidak bersekolah di kawasan Utara Jakarta”. Begitu kata beliau yang satu saat jika niatnya terkabul akan mengurusi masalah Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan.

“IBADAH dan Pengabdian melalui pekerjaan sudah saya lewati beserta Istri hampir 43 tahun lamanya, Maka saya ingin mengisi sisa umur saya terus dengan kebaikan yang Allah SWT sebarkan di hadapan kita berupa hubungan yang baik sesama manusia. Saya ingin bermanfaat, seperti pesan Rasulullah, “Manusia yang baik adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya”. Memperbaiki lingkungan sosial serta pendidikannya bisa kita lakukan sendiri dan saya yakin dengan partai yang mengusung saya akan lebih besar lagi pencapaian kebaikannya karna dilakukan bersama rakyat, Saya akan yakinkan kepada semua pemilih saya dan rakyat semua bahwa saya bisa berbuat baik untuk negeri ini dengan tidak korupsi dan membohongi rakyat”. Hidup jangan frustasi, agar jiwa ini bahagia dan bermanfaat buat alam… 


BEGITUlah, Pertemuan saya dengan Drs.H.Adi Dasmin, Mantan guru SMPN 42 Pademangan Jakarta, yang masih optimis bercita-cita untuk memajukan Negara melalui PENDIDIKAN, mempunyai cita-cita luhur pada bangsa ini. Tanpa sungkan beliau memohon doa dan dukungan untuk kesuksesan beliau agar terpilih menjadi Anggota Dewan dan tanpa janji apapun kecuali memperbaiki dunia pendidikan yang selama ini menjadi niatnya. Saya putuskan, buat saya tak ada salahnya untuk mendukung orang yang berniat baik apalagi mantan guru saya seperti pak Adi Dasmin. Semoga pak Adi diberikan kesehatan untuk menjalankan amanah rakyat 5 tahun ke depan jika terpilih nanti, Insya Allah kita akan terus mendukung dan berdoa selalu agar terkabul cita-citanya mendidik rakyat yang tidak mampu. Amiin.  


Penulis, Dede Syaefudin adalah Alumni SMPN 42, Jakarta 1984.

Wednesday, November 13, 2013

SATU TAHUN SATU TULISAN - Refleksi 2 tahun bersama #SedekahRombongan



Puji syukur kehadirat Ilahi Rabbi yang masih selalu memberikan kesehatan, kesejahteraan, kemampuan berpikir dan beribadah untuk dapat melanjutkan hidup di dunia ini sesuai perintah-Nya, maka hingga saat inipun saya masih diberikan kemudahan merangkai beberapa gabungan kalimat dalam tulisan ini. Terkendala malas menulis adalah penyebab utamanya mungkin karna kurangnya membaca sebagai referensi atau sumber pengetahuan ilmiah dalam menulis, Namun saat ini saya paksaan at least dapat menjadi tulisan pribadi saya atau diary setelah lebih dari setahun baru menulis lagi – maka judul tulisan ini saya populerkan seperti di atas walau terkesan tidak populer. Tulisan ini adalah ungkapan syukur saya yang tepat 2 tahun terpanggil berada di gerakan revolusionernya #SedekahRombongan atau www.SedekahRombongan.com – yang dimotori oleh @Saptuari Sugiharto.dari Berbah, Jogjakarta. 

Saat itu tanggal 17 Desember 2011, saya diminta mencarikan pasien dhuafa oleh @jayteroris sahabat saya yang merupakan mata rantai pertama yang menghubungkan saya dengan #SedekahRombongan hingga saat ini. Sungguh pengalaman yang luar biasa bisa menjadi dan terus berada di antara kurir-kurir #SedekahRombongan, #Kurir adalah istilah Relawan di #SR – yang selalu setiap saat sigap melayani dan mendampingi para dhuafa berobat tanpa digaji sepeserpun. Persaudaraan yang absolute terjalin bersama kurir-kurir seluruh Indonesia yang berlatar belakang majemuk, boleh difollow - ada: @iqbalrekarupa, @marjunulNP, @PakarBlog, @endangnumik, @wirawiry, @hanafirais, @robbyadiarta, @mawanhananto, @cucucuanda, @abahlutung, @dhe_mang dan lainnya hingga para tokoh, ulama, mahasiswa dan pengusaha ikut bergabung dan membuat saya merasa nyata dalam satu rombongan yang mempunyai visi dan misi yang sama ke gerbang syurga. Saya merasakan proses kontemplasi atau tadabur berjalan alami tanpa dipaksakan sebagai ladang belajar beribadah, berbagi, memohon ampun, bersyukur dan memaknai "bersedekah", Alhamdulillah perasaan yang sering saya ungkapkan bahwa bergabung dengan #SR seperti saya tersesat di jalan yang benar.  
#SedekahRombongan mempunyai Visi  “Mencari Muka di Depan Tuhan” dan Misinya “Menyampaikan Titipan Langit Tanpa Rumit, Sulit dan Berbelit-belit” adalah Ruh kami, seperti Jantung kami yang terasa betul-betul memompa darah kami untuk selalu menyegerakan kebaikan bagi para dhuafa, Kata-kata itu bukanlah Judul Lagu atau sekedar Moto yang tertera di Gerbang Batas Kota atau Gapura arah masuk Desa. Gak percaya...? Bergabunglah dan rasakan… (Joshh gwandhoss banget…!) 


Sebelumnya saya pernah mengalami kegundahan hati atau galau, yang sama mafhum setiap saat terjadi dan dialami oleh kebanyakan manusia yang hidup di dunia ini karna faktor hedonisme, materialisme atau hasrat pencapaian dunia saja serta jauh dari mengingat Tuhan, yang akhirnya membentuk kelemahan bagi yang tak dapat menggapainya dan terpuruk frustasi. Saat itu kita melihat orang-orang miskin yang sakit dan dalam keadaan lemah fisik merintih sakit serta lemah ekonominya, lapar dalam gubuk berlantai tanah atau sedang merintih di balik dinding-dinding rumah sakit adalah sebuah cermin kehidupan nyata yang menghadap terbalik, yang tak terlihat dan jarang terjamah selama ini, sementara kita asyik masyuk makan dengan lauk pauk yang lezat serta tidur nyaman bermimpi di atas kasur empuk dibuai oleh kesejukan Air Conditioner ruangan. Hingga hal tersebut bisa dilawan setelah terlibat menjadi Kurir #SR dan perlahan mengubah jati diri kita sebagai manusia – waktu, perasaan, tindakan dan pikiran kita berfungsi memindahkan konsentrasi duniawi tersebut…Jelang malam notifikasi dari SMS, Twitter, BBM, WA dan Email mewartakan perlu bantuan darurat mendatangi pasien dhuafa dan mereschedule rencana istirahat kita bahkan hingga pagi hari untuk menyantuni, mendampingi dan membuat para dhuafa tersenyum, 24hours a day and 7days a week moving around… melelahkan memang karna kami hanya KURIR yang juga manusia dan bertugas menyampaikan Titipan Langit… namun niscaya ada Allah bersama Kurir (Ridlo Allah Inside)

Satu pengalaman saya ketika menjenguk seorang pasien anak perempuan berumur 10 tahun saat itu, Namanya Tias Bekti yang terkena Tumor Medula di bangsal kelas 3 RSCM, Bagian belakangnya tubuhnya mengalami decubitus karna terlalu lama berbaring, pantat dan sebagian punggungnya membusuk. Di sela-sela makan siangnya mendadak ia berhenti, sangkaan kami awalnya malu karna kunjungan kami, ternyata makannya sengaja ia tidak habiskan dan sengaja disisakan adalah untuk Ibunya yang janda yang setia menjaganya – mereka makan jatah rumah sakit selalu dibagi dua karna ibunya tidak mempunyai uang untuk membeli makan diluar. Astaghfirullah… Dada saya langsung bergetar kencang dan saya tak kuat menahan air mata lalu saya berdoa di dalam hati, “Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini.. Yang baru saat ini berjumpa dengan mereka dan terima kasih Engkau telah mempertemukan kami…mudah-mudahan belum terlambat berbuat baik menolong mereka”. - 
Pengalaman kedua saat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Ada keluarga Tadjudin pasien anak dengan Tumor Ganas di bagian pantatnya berasal dari Purwakarta, yang saat itu belum mendapatkan bantuan Jamkes dari kabupatennya. Maka walau belum banyak bantuan yang diberikan karna anak sholeh ini keburu dipanggil Sang Kholiq, namun pelajaran berharga saya dapatkan. Setiap saat keluarga ini diberi santunan dari #SedekahRombongan kadang diterimanya dengan cara unik, dimana santunan yang kami berikan kemudian dibagikan lagi kepada pasien-pasien yang lain yang serombongan dengannya di penginapan, seraya berkata, “Kang biar saya ambil sedikit saja, sisanya saya bagikan buat saudara-saudara kita yang belum makan dan membutuhkannya”.  Subhanallah, ternyata ingin bertemu Tuhan itu sangat mudah, cukup dengan berkomunikasi dan berbagi bersama para dhuafa seperti keluarga Tadjudin itu memberikan inspirasi dan ruhnya sangat terasa kita dekat dengan Tuhan. Keluarga yang kesulitan ini saja masih berbagi kepada saudara-saudaranya yang sependeritaan – Bagaimana dengan kita yang sehat? Seharusnya… Nikmat sekali mensyukuri karunia yang telah Allah berikan, dengan itu kita bertambah sehat dan dapat membantu yang sakit.

Begitulah potongan cerita inspirasi selama menjadi kurir, sebagian waktu setiap hari tercurahkan untuk membuka lembaran update pasien dhuafa yang dibingkai dalam lukisan besar nan indah bernama #SedekahRombongan - sambil pekerjaan utama pencarian nafkah untuk keluarga terus dikayuh berjalan berirama. Bagi saya sedekah merupakan Gaya Hidup atau Life-Style buat setiap muslim utamanya kapanpun, dimanapun dan berapapun, dimana perintah Allah tiada batas mentafsirkan sedekah atau berbagi kepada yang berhak menerima. Beberapa kali potongan ayat dalam Alqur’an Allah berfirman, “Dan Dirikanlah Sholat serta Tunaikan Zakat…”. Sholat merupakan pondasi ibadah, yaitu ritual awal pengharapan segalanya kepada Allah dan ayat tersebut melengkapinya bersamaan dengan pengamalan Zakat yaitu induk dari Sodaqoh atau Sedekah, Infaq dan lainnya sebagai pemberdayaannya – Hubungan horizontal sesama manusia… Keduanya berjalan selaras namun sholat tetap yang paling utama, tidak tergantikan. Sedekah bisa diganti dengan senyum dan amal kebaikan yang tidak memerlukan uang atau harta jika kita tak memilikinya... Sholat menjadi system utama suksesnya peribadatan,
Berbeda memang dengan saudara kita yang bukan muslim yang dapat bersedekah tanpa sholat…

Janji Allah pada orang yang bersedekah pasti terbukti dengan energi-energi positif yang akan kita dapatkan dari langit, terjamin hartanya takkan berkurang malah bertambah, kesehatan dan lainnya. Biarkan itu semua Allah yang proses karna hak prerogative penilaian dan pemberian ada pada Allah dan kita hanya cukup ikhlas dan mensyukurinya, melaksanakan perintahnya serta menjauhi larangannya, selalu berprasangka baik pada Allah serta menjaga ibadah sedekah kita tidak terkontaminasi oleh noktah Riya yang setia menguntit setiap kebaikan kita lewat celah-celah kesombongan dan senang dipuji. Teringat kata-kata Almarhum Bapak Hotman Zainal Arifin, mantan Vice President Citibank yang fenomenal, karna sebelumnya beliau bekerja sebagai seorang Office-Boy di Institusi yang sama, Sebuah perkenalan yang singkat dengan seorang Guru Kehidupan lewat bang @jayteroris… Hanya setengah tahun lebih saya mengenal beliau menjelang sakit dan akhirnya meninggal dunia, disela-sela beberapa kali kami bertemu dan menjenguk – beliau selalu menanyakan pasien-pasien dhuafa yang belum terjamah dan selalu menasehati kami selalu untuk jangan jumawa, sombong… 

Katanya: "Bersyukurlah... Kenapa Tias hanya bertemu dengan kamu dan #SedekahRombongan?, Karna Allah telah membimbingmu untuk menolongnya dan tidak semua orang diberikan kesempatan bertemu anak malang ini".  
Katanya lagi "NAMUN Allah ibarat memberikan kendaraan Formula bernama #SedekahRombongan yang dapat berlari 400km/jam, maka hindari riya walau hanya sedikit… Niscaya kendaraan kita akan bergeser kemudinya walau hanya beberapa derajat dan mengakibatkan celaka…”. Subhanallah, begitu tipis nyaris tak terlihat riya masuk dalam kebaikan namun berdampak besar menghancurkan pahala ibadah kita bahkan mencelakakan. Pesannya bak stimulan bagi kami secara pribadi untuk selalu istiqomah dan waspada menjaga diri dan #SedekahRombongan… Insya Allah.

Saya dapatkan tambahan ilmu dari hikmah menjembatani para pasien dhuafa, saat bersama mengurus fasilitas Jaminan Kesehatan dari Pemerintah yang sebelumnya mereka anggap  begitu sulitnya berobat karna terhalang kondisi sosial ekonomi yang sangat minus, ketidak-mengertian mereka akibat birokratif, hingga timbul miskomunikasi dan pesimis terhadap hak yang mestinya mereka peroleh dari pemerintah dan akhirnya mereka enggan berobat. Kini semuanya perlahan dapat teratasi dan ada jalan keluar melalui transformasi, presentasi dan sharing knowledge para Kurir #SR bersama Departemen di Pemerintahan,  Lembaga Sosial dan Yayasan-yayasan yang sama-sama mengurus masyarakat dhuafa. 

Saat ini #SedekahRombongan telah mendistribusikan bantuan dari para #Sedekaholics mencapai 15 Milyar rupiah untuk sekitar 6.500 santunan pasien dhuafa dan kaum papa dalam kurun waktu 2,5 tahun. Sebuah perjuangan dari Gerakan Sedekah Jalanan yang mempunyai spirit besar menjadi sori tauladan Indonesia dengan mengajak bersama-sama mencari jalan keluar tanpa menangis meminta-minta untuk menolong, membahagiakan dhuafa. Sesuatu yang terindah adalah saat orang yang sedang kesulitan menjadi bahagia karna bantuan kita – Begitupun Dhuafa yang sakit dapat tersenyum dan sembuh saat kita bersamanya. Sesuai (SMS) dari Rasulullah, “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaat untuk orang lain”

Sebagai Doa Penutup, "Semoga kita semua di #SedekahRombongan terus konsisten ikut merahmati Alam Semesta bergerak lewat gubuk-gubuk si miskin dan niscaya akan menjadi pahala penghapus dosa, pahala yang mengalir untuk kedua orangtua kita serta menjadi ladang investasi pahala kita untuk tempat terakhir di akhirat nanti – Amiin"
Semoga tulisan ini menarik dan mohon maaf bila tak menarik dan sudah terlanjur membacanya… Wallahu ‘Alam…
Wassalamu’alaikum…

Salam #TEMBUSLANGIT,
Kang Eded - @ddsyaefudin – Kurir #SedekahRombongan