Sunday, August 14, 2011

Menyatukan Serpihan Masa Lalu

Momen Ifthor Jamai hari Sabtu, 13 Agustus 2011 kemarin adalah momen istimewa bagi kami walaupun dihadiri tidak lebih dari selusin teman. Kami berbuka puasa di RM.Ampera, Bogor bersama beberapa teman lintas angkatan dibawah naungan payung besar Alumni Pesantren Cipasung. Acaranya ini sendiri terprakarsai dari Group BBM dan Sosial Media Facebook yang merupakan jaringan koneksi kami setelah hampir rata-rata dari kami terpisah 24 tahun lamanya.
Kami tidak menyangka awal perjumpaan kami diniatkan untuk mengadakan acara berbuka bersama, menjalankan kebiasaan yang dianjurkan Rasulullah untuk mengisi bagian Ramadhon yang Indah ini. Walaupun jarak kami banyak yang lumayan berjauhan tapi... Subhanallah, bahkan ada salah seorang teman wanita, dia sanggup menggunakan Bis umum dari Sumedang ke Bogor sendirian demi rencana mulia ini... Takkan kami lupakan perjuanganmu....
Suasana riang, haru, sedih bercampur menjadi harmoni yang jelas menarik kami larut dengan masa lalu, bersatu kembali dengan serpihan jiwa kami yang sempat “terlepas” hampir dua kali usia kami saat itu. Dimana lembar kehidupan kami pernah diberi warna dan angka sebagai bagian dari dimulainya perjalanan hidup kami saat remaja.
Kami saling menatap, tak jauh berbeda kecuali bentuk tubuh yang kebanyakan menjadi gemuk , rambut sedikit beruban bahkan ada yang mulai botak serta raut muka yang semakin menua. Tapi, tawa kami tetap lepas, gurauan kami tak berbeda, meski dunia kami sudah saling berbeda.
Cerita kami tetap searah namun luas: dari mulai Guru kami yang bersahaja, Guru kami yang suka nagih telat bayaran SPP, Teman kami yang paling ngocol dan pintar hingga, Nanay tukang Mie, Uu Darbo Tukang Rokok hingga bi Mala dan ceu Eutik - Dua perempuan cerewet namun baik hati tempat kami berhutang makan. Semoga topik pembicaraan kami tentang mereka menjadi doa agar mereka semua ada dalam lindungan Allah SWT.

Kami hadir dengan status masing-masing sebagai Guru, Pengusaha, PNS, Profesional, Seniman, Anggota Legislatif, Istri, Ibu Rumahtangga, dll…. Namun, di momen ini kami lepaskan semua status dan latar belakang itu dan larut sepenuhnya, menyatu dalam kenangan dan kenyataan bahwa kami berasal dari tempat yang sama yaitu “Cipasung”.
Tak terasa waktu jualah yang mengatur kami untuk berpisah, padahal masih banyak cerita, pertanyaan dan jawaban tak beraturan yang belum semuanya menjadi tema sore itu.
What next? Begitu beberapa dari kami saling bertanya... Apakah kita akan rutin bertemu dan saling mengeluarkan ide-ide untuk berbagi, charity, sharing, informasi dan lainnya?.
Bagiku doa yang belum sempat aku katakan adalah marilah kita selalu saling mengingatkan, selalu mengajak keluarga kita, handai taulan untuk meningkatkan sujud kita kepada Allah Azza Wa Jalla... karna di bawah “Kobong Cipasung” kita dulu belajar bersujud, Kita syukuri karena tanpa DIA mustahil kita bertemu dan mewujudkan rencana-rencana kita.
Sampai bertemu di momen berikutnya... Insya Allah....
Wassalam,
Dede Syaefudin - SMAI/Biologi/1987, 14 Ramadhan 1432H.
Special thanks to dearest friends:
Neneng Maryam Hulaemi, Lilies HR, Muklis Nceng, Moch.Lianasrudin, Lava Sembada, Iwan Setiawan, Ning Noer, Novi Sopiah, Dadang Abdul Latif, Muh.Hasan, Cecep Haerudin and Zainul Muttaqin. May Allah bless you and all families. See you on next project.

Thursday, January 20, 2011

PRESIDEN ORSAH DARI PARTAI MISKIN

“Ya, sudah. Cukuplah sudah kita punya presiden yang tak pernah miskin. Bicara peduli wong cilik-wong cilik tapi program kerja negara dari tahun ke tahun peduli wong kayo melulu.” Kata pak Nowan, yang paling cerdas diantara para pemulung itu.

”Jadi menurut pak nowan, gimana, toh?” Si Ipul si pengamen penasaran bertanya.

”Jumlah kita wong miskin di negeri ini 35 juta orang. Itu yang sudah bisa memilih di pemilu kira-kira 20-25 juta orang. Itu di parlemen bisa dapat minimal 40-50 perwakilan. Dengan menguasai 10% parlemen kita bisa atur anggaran negara yang selama ini menguntungkan wong kayo untuk berorientasi ke wong miskin..”Kata pak Nowan semangat, disambut tepuk tangan teman-temannya sesama pemulung pengamen, anak jalanan, pedagang asongan. Pengemis, tukang bakso, tukang parkir dan satpam pasar.

Akhirnya di 17 Agustus 2012, di sebuah kampung kumuh pinggiran ibu kota, partai besar itu berdiri : PARTAI MISKIN! Seorang notaris yang bapaknya dulu petani miskin, secara sukarela mencatatkan nama partai itu, lalu 7 hari kemudian diuruskan ke Kementrian Hukum negeri Opini.

”Ada-ada saja nih orang-orang. PARTAI MISKIN? Hahahahahaha. Berapa anggota partai anda?” tersenyum sinis si petugas menerima pendaftaran.

” 53 juta orang diseluruh propinsi, seluruh kabupaten, seluruh kecamatan, seluruh desa!” Jawab pak nowan mantap.

Bukan hanya si petugas Kementerian Hukum yang terbelalak, segera setelah pencatatan itu dan dilakukan verifikasi, maka memang partai itu benar-benar punya kepengurusan di semua desa/kelurahan seluruh negeri. Semua rakyat yang masih merasa kurang makan, sandang dan perumahan mendaftar ke partai pimpinan pak Nowan ini. Dan ada 53 juta yang menyatakan siap mengubah negeri opini di 2014 menjadi negeri yang berpikir secara orang miskin.

Cara penyampaian informasinya pun tidak perlu muluk-muluk dan mahal. Dari mulut-ke mulut ide partai disampaikan, antar propinsi pakai surat, sms atau email. Lalu dengan uang iuran yang Cuma seribu per anggota, didapat modal awal 53 milyar. Ini digunakan untuk melengkapi perlengkapan partai dan biaya konsolidasi pengurus yang jalan ke sana-sini naik bus umum, becak, ojek, tetapi kalau mau ke pulau lain tetap harus naik pesawat.

Di 17 agustus tahun 2013, Partai Miskin makin menakutkan bagi partai-partai lama, karena semua kota, semua desa ada rumah yang memasang lambang partai miskin, yaitu baju compang-camping. 3 lembaga survey di negeri opini menunjukkan, kalau pemilu diadakan saat itu maka suara untuk Partai Miskin berkisar antara 32-35%. Dan ini semakin mengejutkan karena orang-orang kelas menengah yang kebanyakan golput di pemilu sebelumnya, lebih memutuskan memilih partai miskin daripada golput.

”Saya senang dengan slogan dan program serta visi dan misi partai ini: Mari membangun negeri opini dengan pola pikir orang miskin. Pilihlah pemimpin yang pernah miskin. Jangan pilih orang kaya yang ngaku peduli orang miskin.” kata Indri, mahasiswi simpatisan Partai Miskin.

Dan akhirnya, tahun 2014, Juli pun tiba. Pemilu negeri opini pun akan dilakukan. Partai penguasa yang putus asa, karena orang miskin yang selama ini biasa disogok dengan sembako mulai cerdas, sembako diterima, tetapi tetap milihnya mau Partai Miskin. Akhirnya diaturlah bagaimana supaya kebanyakan orang miskin ini tidak dapat undangan atau tak terdata, seperti yang mereka lakukan selama ini dan memang mempengaruhi hasil pemilu, karena diduga sekirat 5 jutaan mata pilih orang miskin tak dapat undangan pemilu.

Tetapi dimanipulasi sedemikian rupa pun, Partai Miskin tetap menang dengan perolehan 65 juta suara dari 183 juta mata pilih, sekitar 36% kursi parlemen. Dan mereka menduduki 178 kursi dari 500 parlemen.

Oktober 2014, Pada saat pemilihan presiden, Pak Nowan diusulkan Partai Miskin jadi presiden, tapi dia menolak.

”Tujuan Partai Miskin didirikan tidak muluk-muluk. Kita ingin negara ini dibangun berorientasi ke rakyat miskin dan karena jumlah kemiskinan banyak itu tak pernah mau di hilangkan oleh partai-partai lama, malah hanya dimanfaatkan untuk dapat suara, makanya kita bikin Partai Miskin supaya suaranya satu. Untuk jadi presiden, lain lagi, perlu orang yang pintar diplomasi dan berwibawah. Kalau saya jujur aja belum bisa, kita di parlemen dulu saja. Kita pake batik saja pun batik murah, makan masih pake tangan, bahasa inggris gak bisa, mau ngobrol dengan tentera gak bisa. Kita perannya di pengawasan saja. Setuju?” Kata Pak Nowan menjelaskan ke rakyatnya.

Maka, walau parleman dikuasai orang-orang katrok bermuka hitam kumuh, telapak tangan kasar dan bersendal butut, tetapi presiden tetap dari orang kaya.

Anggota parlemen 178 orang dari Partai Miskin benar-benar dipilih partai dari yang berkepribadian sederhana. Mereka semua sepakat tetap hidup sederhana. Gaji dan tunjangan anggota parlemen yang 100 jutaan/bulan, mereka pakai sendiri paling 10 jutaan, 90 jutaan mereka bagi-bagi ke orang miskin di daerahnya.

Yang paling mencolok di negeri opini sejak sepertiga parlemen dikuasai Partai Miskin adalah anggaran belanja yang lebih ramping dan dominan ke pengentasan kemiskinan dan anti fasilitas. Program mercusuar pembangunan gedung ini-itu, even ini-itu tidak lolos. Study banding pejabat/parlemen ke luar negeri ditiadakan. Kalau mau belajar, disarankan lewat internet atau orang dari luar negeri datang ke negeri itu ngasih ceramah. Fasilitas mobil dinas, rumah dinas ditiadakan. Anggota parlemen dari Partai Miskin tetap tinggal di rumahnya, walau direhab dikit-dikit, dan kalau yang dari luar ibu kota, mereka ngontrak rumah susun tipe 36, atas biaya sendiri.

Yang membuat frustasi anggota parlemen partai lain adalah kegemaran orang Partai miskin melaporkan gratifikasi ke badan anti korupsi. Setiap ada rapat undang-undang atau fit and prover test yang biasanya dikasih amplop dari orang-orang yang berkepentingan, dengan lugunya mereka melaporkannya ke badan anti korup, sehingga anggota parlemen lainpun jadi diperiksa dengan lie detector dan yang tidak ngaku ditahan, lalu dipecat.

”Kurang ajar benar orang-orang miskin itu. Kalau Cuma mengandalkan 100 juta sebulan, rugi aku jadi anggota parlemen. Ngarap uang-uang amplop inilah aku keluar 1 M kampanye. Gara-gara rombongan katrok itu lugu sekali melapor-laporkan amplop, aku gak bisa dapat apa-apa lagi. Enakan tetap jadi boss preman di kampungku, bisa kudapat 200 juta sebulan. Dasar sial jadi parlemen periode ini.” gerutuh si Oye, Boss preman yang menyogok 1 M ke partai pemenang tahun kemaren supaya masuk caleg jadi.

Dia pernah dikasih tau pengurus partai bahwa anggota parlemen itu penghasilannya tidak cuma gaji, tapi bisa jalan-jalan ke luar negeri, bisa minta jatah proyek, bisa dapat amplop untuk memuluskan undang-undang dan memilih orang-orang yang di fit prover test, bisa dapat uang terima kasih kalo bisa jadi calo anggaran daerah-daerah pemilihannya, dll. Jadi dengan menyogok 1 M ke partai, dan 1 M biaya kampanye bagi-bagi kaus-sembako, dia perkirakan bisa dapat 10-15 milyar setahun atau 50-75 milyar dalam 5 tahun. Tapi sejak Partai Miskin mendominasi parlemen, dalam 6 bulan pertama dia jadi anggota parlemen, dia Cuma makan dari gaji saja, Cuma dapat 600 juta, itupun sepertiga harus stor ke partai, tinggal 300 juta. Bisa dibayangkan geramnya dia betapa jauh panggang dari api.

Dan perubahan besar pun terjadi, dalam 5 tahun negeri opini lebih berkembang pesat. Kapal perang dan alat pertahanan dibeli menghabiskan 50 trilyun, dana yang selama ini dipakai untuk plesiran dijadikan membeli itu semua, membuat negara tetangga jadi segan dan tidak berani memprovokasi negeri opini lagi. Gaji tentara dan polisi dinaikkan, supaya negeri tambah aman. Program kerja yang banyak memerlukan tenaga kerja digalakkan. Pemberian beasiswa pada pemuda miskin yang pintar menggantikan anggaran untuk membeli mobil dinas pejabat. 50 trilyun yang biasa dipakai untuk acara seremonial ini-itu, untuk bikin baju-baju pejabat pun dipakai untuk bangun 100 rumah sakit Type A gratis untuk rakyat miskin.

Bahkan peringatan 17 Agustus 2015, pertama kalinya pengibaran bendera dilakukan oleh 3 orang dari militer, tidak lagi oleh pasukan anak SMA yang dilatih 3 bulanan.

”Milyaran dana keluar untuk hanya mengibarkan bendera. Bagus, tapi boros. Belum lagi mark-up dananya, belum lagi pelecehan-pelecehan anak-anak itu di camp oleh seniornya. Stop pasukan-pasukanan. Kibarkan biasa saja. Uang milyaran rupiah itu belikan krupuk biar dibagikan ke kampung-kampung untuk lomba makan krupuk. Setuju?”Kata pak Nowan. Anggota partai lain gak berani bantah. Udah habis suara mereka di parlemen karena dongkol.

”Saya hanya mau bicara kalau ada uangnya. Kalau Cuma dapat segini di parlemen, mendingan aku diam saja, atau tidur..” Kata mereka.

Tanpa terasa, 17 Agustus 2025, 10 tahun setelah Partai Miskin menguasai parlemen dan berhasil membuat pembangunan yang berorientasi ke rakyat miskin, maka jumlah orang miskin pun berkurang drastis tinggal 8 juta orang, tetapi pemilih Partai Miskin terus bertambah, dimana pemilu 2024 mereka memenangkan 52% parlemen. Dan pak Nowan, yang sudah 10 tahun di parlemen dan sudah mengerti bertatanegara yang baik pun terpilih jadi presiden.

Di peringatan kemerdekaan negeri opini tahun ini pun pak Nowan memutuskan ikut mengibarkan bendera sendiri di dampingi ketua DPR Ipul si mantan pengamen dan Oye, mantan boss preman yang insyaf sebagai ketua MPR. Selesai mengibarkan bendera si pemimpin besar, pak Nowan pun berpidato kenegaraan di tahun pertamanya.

”Gaji saya sebagai presiden 120 juta, kebutuhan hidup saya sekeluarga cuma 30 an juta, itu pun karena saya terlanjur jadi pejabat. Masih ada 8 juta manusia di negeri ini yang untuk makan dan berpakaian setiap hari pun kekurangan. 90 juta sisa gaji saya sebulan akan saya kasih ke 8 juta orang itu, minimal untuk beli beras. Lalu 5 tahun ke depan saya mau semua anggaran belanja negeri ini berorientasi supaya 8 juta orang miskin itu tidak miskin lagi. Dan kalau toh masih ada yang miskin, itu pun karena salah mereka sendiri, karena judi, karena boros, dan bukan karena tidak ada yang dimakan. Partai Miskin, walaupun tidak ada orang miskin lagi di negeri ini, tidak harus berganti nama dan visi-misi. Tetaplah berpikir secara orang miskin dan kenanglah, bahwa partai ini muncul karena pernah ada 30 an juta rakyat miskin di negeri opini yang sudah bosan janji-janji orang kaya, sehingga kita merasa perlu punya suara sendiri yang mewakili kita. Negeri opini sekarang sudah disegani dan kaya raya, tapi marilah kita semua tetap berpikir sebagai orang miskin, supaya kita tidak mau lagi miskin. MISKIN JANGAN DIPELIHARA..! MERDEKA..!” Tepuk riuh rendah bergemah di negeri itu, sebuah negeri yang sudah menjadi kekuatan ekonomi dunia, tetapi dipimpin oleh presiden yang pernah jadi orang miskin.


(TERPILIHLAH PRESIDEN YANG PERNAH MISKIN/POSMASIAHAAN)

Sunday, November 21, 2010

"Never Give Up"

Seorang pekerja sedang berusaha memecahkan sebongkah batu cadas yang cukup besar dengan menggunakan palu yang juga berukuran besar. Berulang-ulang ia menghantamkan palu itu ke arah batu. Sayangnya, batu itu tidak kunjung pecah.

Sampai tengah hari, batu cadas itu tidak kunjung pecah. Pekerja itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkannya, dan mencoba memecahkan batu lainnya.

Usai makan siang, pekerja itu mulai memukuli batu cadas yang lain. Hingga sore hari, batu cadas itu pun tidak kunjung pecah. Batu itupun ditinggalkan, dan untuk keesokan harinya, ia sudah siapkan batu lain untuk dipecahkan.

Keesokan paginya, ketika pekerja yang sama sedang memukuli batu yang ketiga, seorang anak kecil membawa sebuah palu kecil dan memukulkannya ke batu cadas yang pertama. Dan hanya dengan dua pukulan yang tidak terlalu keras, batu cadas pun pecah.

Apa yang saya gambarkan melalui cerita di atas, adalah metafora orang-orang yang melakukan banyak hal, tetapi tidak dituntaskan. Misalnya mereka memulai usaha, tetapi belum sampai menghasilkan, mereka sudah beralih pada usaha lainnya. Mereka mencoba suatu keterampilan tertentu, tetapi belum sampai khatam, sudah belajar keterampilan lainnya. Ujung-ujungnya, mereka hanya berpindah-pindah aktivitas tanpa hasil yang berarti.

Lebih sial lagi, pekerjaan mereka diselesaikan oleh orang lain, dengan cara yang relatif lebih mudah. Dan orang itu lah yang menikmati hasilnya.

Banyak orang yang gagal dalam hidupnya, karena ia berhenti mencoba justru di saat-saat menjelang ia berhasil. Bayangkan apabila Edison berhenti mencoba di langkah ke 9.000, Walt Disney berhenti di percobaan ke tiga ratus, atau kolonel Sanders berhenti di langkah ke seribu? Bisa jadi listrik ditemukan oleh orang lain. Kebesaran Disneyland atau KFC justru dicapai oleh orang selain Walt Disney dan Kolonel Sanders.

Tidak ada cara mudah. Suatu usaha atau keterampilan harus dicoba terus sampai tuntas untuk memperoleh hasil sesuai harapan. Berhenti di tengah jalan dan pindah ke jalur lain, hanya membuat kita capai berjalan tanpa bisa menikmati hasil.

Masih mau berpindah-pindah aktivitas sebelum mencapai hasil maksimal? 



(Zainal "Teroris" Abidin - Sudah dimuat di Harian Semarang, Rubrik Inspirasi, Sabtu, 13 November 2010)

"Omset saya paling sedikit 15 juta perbulan pak…!"

Itulah salah satu kalimat yang dijadikan Judul Tulisan ini… Cerita HENDRI Alumni Laskar Taruna Mandiri Angkatan Pertama, setelah pada Sabtu, 20 November 2010 saya coba mampir ke sudut bagian rumah mertuanya yang dijadikan Kios Service Handphone dan jualan aksesorisnya.

Pria putus sekolah yang hanya mempunyai ijazah SD Pasung 1, Wedi, Klaten, Jawa Tengah memulai usaha sebagai tukang kayu dan serabutan ini bangga dengan apa yang telah ia dapatkan melalui Pelatihan Reparasi Handphone yang diselenggarakan oleh Komunitas Tangan Di Atas(TDA) dan Institut Kemandirian di daerah Pademangan dimana dia dan keluarganya menetap saat ini.

Anak kesatu dari 5 bersaudara yang lahir tahun 1977 ini berujar awalnya tidak menyangka usaha jualan voucher yang dilakukan bersama Wagiati istrinya akan menjadikannya sumber kehidupan, Setelah Ilmu dan kemauan yang ia dapatkan dari pelatihan kini telah menjadikannya semakin optimis untuk dapat membesarkan anak-anaknya serta membahagiakan keluarganya dengan menerima Handphone rusak untuk diperbaiki dan menyediakan spare-part dan aksesorisnya.

Impiannya kelak dapat memperbaiki HP produk Cina dan Blackberry walaupun saat ini literatur komputer adalah target pertama yang ia harus pelajari, Semuanya itu belum dapat ia lakukan sendiri karna keterbatasan peralatan dan jam terbang, namun tidak menjadikannya putus asa apabila ada HP pelanggan yang bermasalah dengan software tentu masih dapat ia perbaiki dengan bantuan teman-teman alumni Institut Kemandirian dan Instruktur-instruktur yang pernah membimbingnya. “Saya langsung bawa saja ke Klinik Ponsel di Kampung Melayu atau di Kalibata dan disanakan ada Kak Triyono, Kak Trisno dan yang lainnya yang sangat baik membantu saya, yang penting kita berusaha dan tidak malas..!” demikian pemilik nama kios "APRIL CELL" ini berucap.

Hendri membingkai testimoni ini dengan syukur dan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh teman-teman yang ikut mengisi proses pembelajarannya dan berharap semoga teman-teman yang lain bisa maju bersama demi keluarga dan masyarakat Pademangan.

Alhamdulillah… Itulah Hendri, Teman kita… Murid kelas jauh Laskar Taruna Mandiri yang telah menemukan upaya kehidupan sebagai manusia yang tidak putus asa dan menjauhi kemiskinan. Jantungku berdebar-debar tak kuasa menahan haru… Selamat buat Hendri… Kami bangga…!

Dede Syaefudin for Laskar Taruna Mandiri - Depok, 21 November 2010.

Thursday, November 11, 2010

Sang Master

Di sebuah desa, ada seorang yang punya keahlian unik. Orang ini mampu memasukkan benang ke dalam lubang jarum dengan cara dilempar dari sebuah tempat yang berjarak sekitar duapuluh lima meter. Dengan cara yang berbeda-beda. Mulai dari posisi berdiri, berbalik, menyamping bahkan sambil tidur. Tingkat akurasinya mengagumkan.

Kabar itu, akhirnya sampai di telinga sang raja. Ia pun bertitah untuk memanggil orang unik ini. Sebut saja dengan sang master. Raja mengutus seorang punggawa istana untuk mengundang ahli pelempar benang ini untuk mendemonstrasikan keahliannya di istana raja.

Singkat cerita, sang master pun datang ke istana. Ia hadir di hadapan sang raja dan berkenan mempertunjukkan keahliannya.

Dan sang rajapun kembali bertitah. Ia memerintahkan beberapa prajurit untuk mengumumkan pertunjukan unik itu kepada seluruh rakyat di seluruh wilayah kerajaan.

Dan hari yang telah ditentukan pun tiba. Di sebuah lapangan yang luas, di hadapan ribuan pasang mata penonton ternasuk sang raja, sang master mempertunjukkan keahliannya memasukkan benang ke dalam jarum.

Seperti berita yang sudah beredar, ia mampu melakukannya dengan berbagai cara. Nyaris sempurna. Ia melakukannya dalam posisi berdiri, jongkok, membelakangi, menyamping bahkan tidur.

Tepuk tangan membahana setiap kali sang master selesai melaksanakan tugasnya. Dan di akhir pertunjukan, sang raja turun dari podium dan menyalami sang master. Ia memberi hadiah sebesar 5 keping uang emas untuk keahliannya.

Dan terjadilah hal yang tidak disangka-sangka. Sang raja memerintahkan sang master duduk di sebuah kursi, dan mengeluarkan cambuk.

'Mengapa aku dicambuk?' Kat sang master.

'Lima keping uang emas adalah hadiah atas keterampilanmu. Dan hukuman cambuk ini adalah upah karena bertahun-tahun engkau membuang waktu untuk melakukan sesuatu yang sia-sia.'

'Bertahun-tahun kau pelajari keterampilanmu. Dan bertahun-tahun pula kau kuasai keterampilan itu. Tapi dari dulu hingga kini, hidupmu tidak berubah. Kau jadi beban bagi orang lain. Kau pelajari ilmu yang tidak ada gunanya, bagimu dan juga bagi orang lain!'

Pertanyaannya buat kita semua : Sedang belajar apa kita sekarang, dan akankah ilmu itu akan aga gunanya bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain?

(Zainal Abidin: Terima kasih buat pak Eri Sudewo, yang menceritakan kisah ini).

(Sudah dimuat di Harian Semarang, rubrik Inspirasi, hari Sabtu 16 Oktober 2010)

Wednesday, November 10, 2010

Septic Tanks Project

Setiap agama memiliki tradisi berbagi. Islam mengenal konsep zakat, infak dan sedekah. Nasrani ada konsep persepuluhan. di kalangan Hindu di Bali, bahkan nilainya sampai sepertiga dari pendapatan.

Hari-hari ini, banyak perusahaan maupun pribadi melakukan upaya pembagian dana zakat, infak dan sedekah. Dan secara umum, yang dilakukan nyaris sama. Bedanya hanya dalam cara mengorganisirnya.

Yang masih tradisional, biasanya sudah punya waktu tertentu dalam membagikannya. calon penerima tidak diseleksi. Tidak ada proses verifikasi. Siapa yang datang dan antri, sepanjang jatahnya masih ada, pasti kebagian. Inilah yang sering jadi senjata makan tuan. Jatah yang dibagikan lebih sedikit daripada jumlah calon penerima. Akibatnya, antrian yang semula rapi, jadi berantakan tidak terkendali. Dan terjadilah bencana. Yang fisiknya lemah, bisa terinjak, tergencet sampai luka-luka bahkan meninggal dunia.

Yang sudah well-organized, mengundang anak-anak yatim, para janda dan kaum dhuafa yang sudah terseleksi ke suatu tempat tertentu. Di sana, para mustahik diberi bingkisan berupa makanan, minuman dan atau pakaian. Juga ada amplop berisi sejumlah uang.

Mungkin tidak ada salahnya memberikan sedikit kebahagiaan kepada para mustahik di hari raya. Tapi sadarkah kita, bila apa yang dilakukan itu berpotensi melestarikan kemiskinan?

Hari itu, para dhuafa bergembira. Apalagi kalau dihibur dengan aneka atraksi sulap, gerak dan lagu dari para artis atau pun tausiyah dari para ustadz. Syiarnya semakin jauh jika panitia mengundang wartawan dari media cetak dan atau elektronik. Tapi apa yang akan terjadi di hari-hari berikutnya?

Mereka akan kembali ke kehidupan semula, kehidupan yang penuh dengan kekurangan. Tahun depan, mereka akan datang lagi. Menerima santunan kembali. Gebyar-gebyar kegembiraan tahun lalu, nyaris tidak bersisa selama setahun, sampai berulang kegembiraan di tahun berikutnya.

Inilah yang saya sebut Septic Tank Project. Hari ini kita bantu mereka. Tapi dana bantuan hanya habis untuk konsumsi. Tahun mereka datang kembali untuk menerima bantuan lagi. Bahkan bisa jadi, mereka membawa serta kawan-kawan lainnya. Ujung-ujungnya, jumlah penerima jadi membengkak. Dan pemberian bantuan hanyalah menjadi seremoni pelestarian kemiskinan. Belum lagi munculnya ekses lain seperti penyaluran dana yang tidak semestinya karena dana diterima oleh orang yang tidak berhak, munculnya korban jiwa akibat berdesakan, dan sebagainya.

Sebenarnya, ada dua hal yang biasa dilakukan dalam penyaluran dana ZIS, yaitu berbentuk charity (sumbangan), dan empowerment (pemberdayaan). Charity, mudah pelaksanaan dan pertanggung-jawabannya. Tapi, mudharatnya banyak. Jangan-jangan, kemiskinan enggan pergi dari bumi Indonesia, karena pola charity lebih banyak dilakukan.

Empowerment, lebih sulit pelaksanaan dan pertanggung-jawabannya. Sebagian dana diberikan dalam bentuk pelatihan, sebagian lagi dalam bentuk modal usaha. Kalau dilaksanaan secara taat azas, bisa jadi mustahik yang dibantu tahun ini, tahun depan sudah tidak lagi jadi mustahik. Bahkan bisa jadi muzakki. So, lewat pola yang mana ZIS anda disalurkan? 

Zainal Teroris Abidin, on Wednesday, October 13, 2010 at 11:51am

"GESTUN"

Seorang kawan datang ke saya untuk pinjam sejumlah uang, yang akan ia gunakan untuk membayar hutang ke bank, yang jumlahnya cukup besar. Usahanya gagal total dan meninggalkan sejumlah hutang. Di sisi lain, ia tidak punya sumber penghasilan lain. Saya tambah bingung, karena sepengetahuan saya, dia tidak punya asset sebesar hutangnya.

Akhirnya ia mengaku, ia bisa punya hutang sebesar itu pada 4 bank dengan memanfaatkan 4 kartu kredit dan memperkenalkan istilah GESTUN.

Gestun itu akronim dari Gesek Tunai. Kalau anda punya kartu kredit dari bank manapun, anda punya kesempatan untuk memanfaatkan kartu kredit itu sebagai sumber modal. Nyaris tanpa perlu prosedur yang berbelit.

Cukup datangi beberapa merchant tertentu, yang bersedia melakukan Gestun. Dalam transaksi ini, anda seolah-olah membeli suatu barang dengan menggunakan kartu kredit. Gesek kartu kreditnya, tanda tangani slipnya, dan anda akan terima uangnya. Ya. Anda akan terima sejumlah uang, yang jumlahnya sama dengan jumlah harga barang. Tentu saja sudah dipotong biaya administrasi.

Sejumlah dana hasil gestun itulah yang digunakannya untuk modal usaha, yang akhirnya berantakan. Dan sekarang ia sedang bingung, bagaimana membayarnya?

Bagi saya, itu adalah sebuah kesalahan fatal. Mengapa ?

1. Ini kesalahan utama. Dia menggunakan sumber dana kartu kredit, yang memberlakukan sistem bunga. Dan jika terjadi gagal bayar, jumlah yang harus dibayar terus bertambah seiring dengan berjalannya wakt.

2. Untuk mendapatkan sejumlah uang untuk modal usaha, ia harus berbohong. Transaksinya jual-beli barang, tetapi yang diterima bukan barang yang dibeli. Ia menerima uang tunai.

3. Ia berhutang, dengan harapan bisa membayarnya dari hasil usaha produktifnya. Padahal riset membuktikan, hampir tidak ada usaha yang dimodali dengan dana besar, bisa langsung untuk di bulan pertama.

Modal mungkin faktor utama bagi anda, kalau mau mulai usaha. Tapi jangan lakukan segalanya untuk mendapatkan modal. Sedapat mungkin, jangan mulai usaha dari dana yang diperoleh dari berhutang. Apalagi harus berbohong pula! 

(Zainall Teroris Abidin, Sunday, November 7, 2010 at 8:39am)