Wednesday, November 13, 2013

SATU TAHUN SATU TULISAN - Refleksi 2 tahun bersama #SedekahRombongan



Puji syukur kehadirat Ilahi Rabbi yang masih selalu memberikan kesehatan, kesejahteraan, kemampuan berpikir dan beribadah untuk dapat melanjutkan hidup di dunia ini sesuai perintah-Nya, maka hingga saat inipun saya masih diberikan kemudahan merangkai beberapa gabungan kalimat dalam tulisan ini. Terkendala malas menulis adalah penyebab utamanya mungkin karna kurangnya membaca sebagai referensi atau sumber pengetahuan ilmiah dalam menulis, Namun saat ini saya paksaan at least dapat menjadi tulisan pribadi saya atau diary setelah lebih dari setahun baru menulis lagi – maka judul tulisan ini saya populerkan seperti di atas walau terkesan tidak populer. Tulisan ini adalah ungkapan syukur saya yang tepat 2 tahun terpanggil berada di gerakan revolusionernya #SedekahRombongan atau www.SedekahRombongan.com – yang dimotori oleh @Saptuari Sugiharto.dari Berbah, Jogjakarta. 

Saat itu tanggal 17 Desember 2011, saya diminta mencarikan pasien dhuafa oleh @jayteroris sahabat saya yang merupakan mata rantai pertama yang menghubungkan saya dengan #SedekahRombongan hingga saat ini. Sungguh pengalaman yang luar biasa bisa menjadi dan terus berada di antara kurir-kurir #SedekahRombongan, #Kurir adalah istilah Relawan di #SR – yang selalu setiap saat sigap melayani dan mendampingi para dhuafa berobat tanpa digaji sepeserpun. Persaudaraan yang absolute terjalin bersama kurir-kurir seluruh Indonesia yang berlatar belakang majemuk, boleh difollow - ada: @iqbalrekarupa, @marjunulNP, @PakarBlog, @endangnumik, @wirawiry, @hanafirais, @robbyadiarta, @mawanhananto, @cucucuanda, @abahlutung, @dhe_mang dan lainnya hingga para tokoh, ulama, mahasiswa dan pengusaha ikut bergabung dan membuat saya merasa nyata dalam satu rombongan yang mempunyai visi dan misi yang sama ke gerbang syurga. Saya merasakan proses kontemplasi atau tadabur berjalan alami tanpa dipaksakan sebagai ladang belajar beribadah, berbagi, memohon ampun, bersyukur dan memaknai "bersedekah", Alhamdulillah perasaan yang sering saya ungkapkan bahwa bergabung dengan #SR seperti saya tersesat di jalan yang benar.  
#SedekahRombongan mempunyai Visi  “Mencari Muka di Depan Tuhan” dan Misinya “Menyampaikan Titipan Langit Tanpa Rumit, Sulit dan Berbelit-belit” adalah Ruh kami, seperti Jantung kami yang terasa betul-betul memompa darah kami untuk selalu menyegerakan kebaikan bagi para dhuafa, Kata-kata itu bukanlah Judul Lagu atau sekedar Moto yang tertera di Gerbang Batas Kota atau Gapura arah masuk Desa. Gak percaya...? Bergabunglah dan rasakan… (Joshh gwandhoss banget…!) 


Sebelumnya saya pernah mengalami kegundahan hati atau galau, yang sama mafhum setiap saat terjadi dan dialami oleh kebanyakan manusia yang hidup di dunia ini karna faktor hedonisme, materialisme atau hasrat pencapaian dunia saja serta jauh dari mengingat Tuhan, yang akhirnya membentuk kelemahan bagi yang tak dapat menggapainya dan terpuruk frustasi. Saat itu kita melihat orang-orang miskin yang sakit dan dalam keadaan lemah fisik merintih sakit serta lemah ekonominya, lapar dalam gubuk berlantai tanah atau sedang merintih di balik dinding-dinding rumah sakit adalah sebuah cermin kehidupan nyata yang menghadap terbalik, yang tak terlihat dan jarang terjamah selama ini, sementara kita asyik masyuk makan dengan lauk pauk yang lezat serta tidur nyaman bermimpi di atas kasur empuk dibuai oleh kesejukan Air Conditioner ruangan. Hingga hal tersebut bisa dilawan setelah terlibat menjadi Kurir #SR dan perlahan mengubah jati diri kita sebagai manusia – waktu, perasaan, tindakan dan pikiran kita berfungsi memindahkan konsentrasi duniawi tersebut…Jelang malam notifikasi dari SMS, Twitter, BBM, WA dan Email mewartakan perlu bantuan darurat mendatangi pasien dhuafa dan mereschedule rencana istirahat kita bahkan hingga pagi hari untuk menyantuni, mendampingi dan membuat para dhuafa tersenyum, 24hours a day and 7days a week moving around… melelahkan memang karna kami hanya KURIR yang juga manusia dan bertugas menyampaikan Titipan Langit… namun niscaya ada Allah bersama Kurir (Ridlo Allah Inside)

Satu pengalaman saya ketika menjenguk seorang pasien anak perempuan berumur 10 tahun saat itu, Namanya Tias Bekti yang terkena Tumor Medula di bangsal kelas 3 RSCM, Bagian belakangnya tubuhnya mengalami decubitus karna terlalu lama berbaring, pantat dan sebagian punggungnya membusuk. Di sela-sela makan siangnya mendadak ia berhenti, sangkaan kami awalnya malu karna kunjungan kami, ternyata makannya sengaja ia tidak habiskan dan sengaja disisakan adalah untuk Ibunya yang janda yang setia menjaganya – mereka makan jatah rumah sakit selalu dibagi dua karna ibunya tidak mempunyai uang untuk membeli makan diluar. Astaghfirullah… Dada saya langsung bergetar kencang dan saya tak kuat menahan air mata lalu saya berdoa di dalam hati, “Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini.. Yang baru saat ini berjumpa dengan mereka dan terima kasih Engkau telah mempertemukan kami…mudah-mudahan belum terlambat berbuat baik menolong mereka”. - 
Pengalaman kedua saat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Ada keluarga Tadjudin pasien anak dengan Tumor Ganas di bagian pantatnya berasal dari Purwakarta, yang saat itu belum mendapatkan bantuan Jamkes dari kabupatennya. Maka walau belum banyak bantuan yang diberikan karna anak sholeh ini keburu dipanggil Sang Kholiq, namun pelajaran berharga saya dapatkan. Setiap saat keluarga ini diberi santunan dari #SedekahRombongan kadang diterimanya dengan cara unik, dimana santunan yang kami berikan kemudian dibagikan lagi kepada pasien-pasien yang lain yang serombongan dengannya di penginapan, seraya berkata, “Kang biar saya ambil sedikit saja, sisanya saya bagikan buat saudara-saudara kita yang belum makan dan membutuhkannya”.  Subhanallah, ternyata ingin bertemu Tuhan itu sangat mudah, cukup dengan berkomunikasi dan berbagi bersama para dhuafa seperti keluarga Tadjudin itu memberikan inspirasi dan ruhnya sangat terasa kita dekat dengan Tuhan. Keluarga yang kesulitan ini saja masih berbagi kepada saudara-saudaranya yang sependeritaan – Bagaimana dengan kita yang sehat? Seharusnya… Nikmat sekali mensyukuri karunia yang telah Allah berikan, dengan itu kita bertambah sehat dan dapat membantu yang sakit.

Begitulah potongan cerita inspirasi selama menjadi kurir, sebagian waktu setiap hari tercurahkan untuk membuka lembaran update pasien dhuafa yang dibingkai dalam lukisan besar nan indah bernama #SedekahRombongan - sambil pekerjaan utama pencarian nafkah untuk keluarga terus dikayuh berjalan berirama. Bagi saya sedekah merupakan Gaya Hidup atau Life-Style buat setiap muslim utamanya kapanpun, dimanapun dan berapapun, dimana perintah Allah tiada batas mentafsirkan sedekah atau berbagi kepada yang berhak menerima. Beberapa kali potongan ayat dalam Alqur’an Allah berfirman, “Dan Dirikanlah Sholat serta Tunaikan Zakat…”. Sholat merupakan pondasi ibadah, yaitu ritual awal pengharapan segalanya kepada Allah dan ayat tersebut melengkapinya bersamaan dengan pengamalan Zakat yaitu induk dari Sodaqoh atau Sedekah, Infaq dan lainnya sebagai pemberdayaannya – Hubungan horizontal sesama manusia… Keduanya berjalan selaras namun sholat tetap yang paling utama, tidak tergantikan. Sedekah bisa diganti dengan senyum dan amal kebaikan yang tidak memerlukan uang atau harta jika kita tak memilikinya... Sholat menjadi system utama suksesnya peribadatan,
Berbeda memang dengan saudara kita yang bukan muslim yang dapat bersedekah tanpa sholat…

Janji Allah pada orang yang bersedekah pasti terbukti dengan energi-energi positif yang akan kita dapatkan dari langit, terjamin hartanya takkan berkurang malah bertambah, kesehatan dan lainnya. Biarkan itu semua Allah yang proses karna hak prerogative penilaian dan pemberian ada pada Allah dan kita hanya cukup ikhlas dan mensyukurinya, melaksanakan perintahnya serta menjauhi larangannya, selalu berprasangka baik pada Allah serta menjaga ibadah sedekah kita tidak terkontaminasi oleh noktah Riya yang setia menguntit setiap kebaikan kita lewat celah-celah kesombongan dan senang dipuji. Teringat kata-kata Almarhum Bapak Hotman Zainal Arifin, mantan Vice President Citibank yang fenomenal, karna sebelumnya beliau bekerja sebagai seorang Office-Boy di Institusi yang sama, Sebuah perkenalan yang singkat dengan seorang Guru Kehidupan lewat bang @jayteroris… Hanya setengah tahun lebih saya mengenal beliau menjelang sakit dan akhirnya meninggal dunia, disela-sela beberapa kali kami bertemu dan menjenguk – beliau selalu menanyakan pasien-pasien dhuafa yang belum terjamah dan selalu menasehati kami selalu untuk jangan jumawa, sombong… 

Katanya: "Bersyukurlah... Kenapa Tias hanya bertemu dengan kamu dan #SedekahRombongan?, Karna Allah telah membimbingmu untuk menolongnya dan tidak semua orang diberikan kesempatan bertemu anak malang ini".  
Katanya lagi "NAMUN Allah ibarat memberikan kendaraan Formula bernama #SedekahRombongan yang dapat berlari 400km/jam, maka hindari riya walau hanya sedikit… Niscaya kendaraan kita akan bergeser kemudinya walau hanya beberapa derajat dan mengakibatkan celaka…”. Subhanallah, begitu tipis nyaris tak terlihat riya masuk dalam kebaikan namun berdampak besar menghancurkan pahala ibadah kita bahkan mencelakakan. Pesannya bak stimulan bagi kami secara pribadi untuk selalu istiqomah dan waspada menjaga diri dan #SedekahRombongan… Insya Allah.

Saya dapatkan tambahan ilmu dari hikmah menjembatani para pasien dhuafa, saat bersama mengurus fasilitas Jaminan Kesehatan dari Pemerintah yang sebelumnya mereka anggap  begitu sulitnya berobat karna terhalang kondisi sosial ekonomi yang sangat minus, ketidak-mengertian mereka akibat birokratif, hingga timbul miskomunikasi dan pesimis terhadap hak yang mestinya mereka peroleh dari pemerintah dan akhirnya mereka enggan berobat. Kini semuanya perlahan dapat teratasi dan ada jalan keluar melalui transformasi, presentasi dan sharing knowledge para Kurir #SR bersama Departemen di Pemerintahan,  Lembaga Sosial dan Yayasan-yayasan yang sama-sama mengurus masyarakat dhuafa. 

Saat ini #SedekahRombongan telah mendistribusikan bantuan dari para #Sedekaholics mencapai 15 Milyar rupiah untuk sekitar 6.500 santunan pasien dhuafa dan kaum papa dalam kurun waktu 2,5 tahun. Sebuah perjuangan dari Gerakan Sedekah Jalanan yang mempunyai spirit besar menjadi sori tauladan Indonesia dengan mengajak bersama-sama mencari jalan keluar tanpa menangis meminta-minta untuk menolong, membahagiakan dhuafa. Sesuatu yang terindah adalah saat orang yang sedang kesulitan menjadi bahagia karna bantuan kita – Begitupun Dhuafa yang sakit dapat tersenyum dan sembuh saat kita bersamanya. Sesuai (SMS) dari Rasulullah, “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaat untuk orang lain”

Sebagai Doa Penutup, "Semoga kita semua di #SedekahRombongan terus konsisten ikut merahmati Alam Semesta bergerak lewat gubuk-gubuk si miskin dan niscaya akan menjadi pahala penghapus dosa, pahala yang mengalir untuk kedua orangtua kita serta menjadi ladang investasi pahala kita untuk tempat terakhir di akhirat nanti – Amiin"
Semoga tulisan ini menarik dan mohon maaf bila tak menarik dan sudah terlanjur membacanya… Wallahu ‘Alam…
Wassalamu’alaikum…

Salam #TEMBUSLANGIT,
Kang Eded - @ddsyaefudin – Kurir #SedekahRombongan

Thursday, April 19, 2012

Inilah Keistimewaan Bersedekah

“Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah, berpuasa, dan shalat di kala kebanyakan manusia tidur.” (HR.Tirmidzi)
Salah satu ibadah yang dianjurkan Allah SWT adalah bersedekah, baik dikala lapang maupun dikala sempit. Sebab sedekah adalah amal kebaikan sebagaimana al-Quran surah al-A’raf ayat 16 khusus amalan sedekah dilipatkan-gandakan lagi sesuai kehendak Allah, yang kemudian ditambah lagi mendapatkan berbagai keutamaan sedekah.

Marilah kita baca hadis Rasulullah SAW; “Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Memberi , Ia mencintai pemurah serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al-Baihaqi)

Hadis di atas juga kita bisa petik hikmahnya bahwa Islam sangat membenci sifat pelit dan bakhil dan sifat suka meminta-minta. Tetapi sebaliknya seorang mukmin itu banyak memberi dan pemurah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari)

Kita sudah tidak membantah lagi tentang keistimewaan ibadah sedekah. Sejumlah cendekiawan dan ulama muslim mengatakan bahwa terdapat ratusan dalil yang menegaskan bahwa Allah SWT memberikan pahala yang berlipat ganda dan memuliakan kaum yang bersedekah.

Mengutip kitab yang berjudul Al Inaafah Fimaa Ja’a Fis Shadaqah Wad Dhiyaafah, terdapat keutamaan bersedekah antara lain:

Pertama, sedekah dapat menghapus dosa. Pernyataan ini diperkuat dengan dalil hadist Rasulullah SAW, “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR.Tirmidzi, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, 614).

Pengampunan dosa ini tentu saja disertai taubat sepenuh hati, dan tidak kembali melakukan perbuatan-perbuatan tercela serta terhina seperti sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, atau mengambil harta anak yatim.

Kedua, bersedekah memberikan keberkahan pada harta yang kita miliki. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW yang berbunyi, “Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim).

Ketiga, Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah. Hal ini sebagaimana janji Allah SWT di dalam al-Quran. “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al-Hadid: 18)

Keempat, terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah. Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga.

“Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR Bukhari).

Dan terakhir, orang yang sering bersedekah dapat membebaskan dari siksa kubur. Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani)




Keutamaan Membersihkan Masjid

Pada zaman Rasulullah SAW ada seorang wanita hitam bernama Ummu Mahjan. Dia selalu menyempatkan diri membersihkan masjid Rasulullah SAW. Suatu hari ketika Rasul sedang ke pemakaman, beliau melihat sebuah kuburan baru.

Rasul bertanya, “Kuburan siapa ini, wahai para sahabat?”

Mereka yang hadir di situ menjawab, “Ini kuburan Ummu Mahjan, ya Rasulullah.”

Rasul SAW langsung menangis begitu mendengar berita tersebut, lalu beliau menyalahkan para sahabatnya, “Mengapa kalian tidak memberitahukan kematiannya kepadaku supaya aku bisa menyalatinya?”

Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, pada waktu itu matahari sedang terik sekali.” Rasulullah diam saja mendengar jawaban tersebut.
Lalu, beliau berdiri dan shalat untuk mayit yang sudah ditanam beberapa hari itu dari atas kuburnya. “Bila ada di antara kalian yang meninggal dunia, beri tahukan kepadaku, sebab orang yang kushalati di dunia, shalatku itu akan menjadi syafa‘at di akhirat.”

Sesudah berkata demikian, Rasulullah kemudian memanggil Ummu Mahjan dari atas kuburnya. “Assalamualaikum ya Ummu Mahjan! Pekerjaan apa yang paling bernilai dalam daftar amalmu?”

Rasulullah SAW diam sejenak. Tak lama kemudian beliau berkata, “Dia menjawab bahwa pekerjaannya membersihkan masjid Rasulullah adalah pekerjaan yang paling bernilai di sisi Allah. Allah Taala berkenan mendirikan rumah untuknya di surga dan dia kini sedang duduk-duduk di dalamnya.”

Secara fisik, masjid adalah bangunan biasa yang terdiri atas lantai, tiang, dan atap. Namun, secara spiritual, masjid adalah poros nadi umat yang sangat fundamental. Selain menjadi perekat umat di mana mereka bisa menebarkan kebajikan, masjid juga merupakan media bagi sang Muslim agar sukses dalam menjalin hubungan vertikal dengan Allah; melalui masjid, sang Muslim bisa melakukan mi'raj menuju Ilahi.

Dari masjid, kaum Muslimin bisa belajar-mengajar, keimanan seseorang tergambar, tingkat keberagamaan masyarakat terpancar, ketenangan dan kedamaian berbinar-binar, dan kebangkitan umat mengakar.

Seorang Muslim akan prihatin dan sedih manakala menjumpai seseorang yang dengan seenaknya mengotori masjid dan membiarkan kotoran (sampah) berserakan. Juga tidak etis jika kita membiarkan bau tak sedap bercokol di tempat wudhu, toilet, atau kamar mandi masjid, sehingga aromanya menyebar dan dihirup orang-orang yang shalat, membaca Alquran, iktikaf, atau ibadah lainnya.

Dengan demikian, kebersihan dan keasrian masjid jelas mendukung kekhusyukan kaum Muslimin dalam beribadah. Maka, sangat pantas kalau Allah dan Rasul-Nya memberikan pahala yang besar bagi mereka yang membersihkan masjid— sebagaimana tersimbul dalam riwayat di atas. Nabi juga bersabda, “Barang siapa yang mengeluarkan kotoran dari masjid maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga,” (HR Ibnu Majah).

Zaman memang sudah berubah dan modern, sehingga masjid-masjid membutuhkan pengurusnya. Namun, membersihkan masjid tentu saja bukan monopoli mereka. Selama mempunyai niat yang mantap, siapa pun punya peluang yang sama untuk mempersiapkan bangunan di surga, yakni dengan membersihkan masjid.



Inilah VIRUS perusak amal

Sungguh beruntung dan mulia seseorang yang diberikan kelebihan harta, lalu mengeluarkan sebagian hartanya tersebut di jalan Allah (fi sabilillah) dengan penuh ketaatan. Dan, sungguh akan rugi dan hina orang yang memiliki kelebihan harta ketika hartanya tersebut hanya digunakan untuk bermegah-megah sehingga ia menjadi lalai dari ketaatan kepada Allah SWT.

Banyak di antara kita yang sadar terhadap pentingnya berinfak dan bersedekah, tetapi terkadang tidak sadar kalau kualitas ibadah infak tersebut menjadi rusak akibat perbuatan kita sendiri. Dalam Alquran banyak ayat yang menjelaskan tentang virus-virus yang merusak amal ibadah, termasuk infak atau sedekah seseorang.

Pertama, karena mengungkit-ungkit sedekah yang telah diberikan (manna) serta merendahkan dan menyakiti hati orang yang menerima pemberian tersebut (adza). Perbuatan seperti ini adalah virus yang mengakibatkan ibadah infak menjadi sia-sia, yakni tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang diinfakkannya.

Amal yang demikian diibaratkan Alquran seperti debu di atas batu besar yang licin, kemudian ditimpa hujan lebat sehingga debu-debu itu menjadi sirna dan tinggallah batu itu menjadi bersih. (QS al-Baqarah [2]:264).

Kedua, berinfak karena riya, yaitu pamer dan ingin dipuji oleh orang lain. Termasuk gejala virus ini adalah seseorang yang berinfak atau bersedekah dengan tujuan mendapatkan suara untuk kepentingan politiknya, bukan karena mencari keridaan Allah SWT. Perumpamaan infak seperti ini sama dengan perumpamaan di atas. Pahala dan ganjarannya luput.

Ketiga, menginfakkan atau memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan, tapi harta atau barang yang diberikan yang paling jelek. Sedangkan, harta yang bagus justru disimpan untuk keperluan sendiri. Islam memerintahkan kepada umatnya supaya berinfak dengan harta yang paling bagus dan melarang memberikan sesuatu sebagai sedekah dengan harta yang paling buruk dan jelek.

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya kecuali dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.” (QS al-Baqarah [2]:267).

Berkaitan dengan sebab-sebab turunnya ayat tersebut, Sahal bin Hanif mengatakan, “Orang-orang terbiasa memisahkan hasil perkebunannya yang tidak berkualitas, lalu mereka mengeluarkannya sebagai ibadah sedekah. Karena itulah, Allah menurunkan ayat di atas.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, dan Hakim).

Dari penjelasan di atas, mudah-mudahan kita semua terhindar dari jenis-jenis virus tersebut. Dengan demikian, infak dan sedekah yang dikerjakan selama di dunia ini diterima di sisi Allah SWT serta mendatangkan banyak manfaat dan keutamaan bagi diri kita dan orang lain. Wallahu al-musta’an.


Saturday, January 21, 2012

STILL A LOT OF GOODFELLAS - a Tribute for 1984


(Catatan Sang Sutradara)
21 JANUARI 2012, Hari ini REUNI AKBAR... kita Alumni SMPN 42 Jakarta berkumpul untuk mewakili Angkatan tahun 1984 di Resto & Cafe Bandar Kemayoran Jakarta. Tempatnya tidak terlalu mewah bahkan terkesan sedikit kumuh di bagian luarnya jika harus disebut layak sebuah tempat makan yang besar. Namun sama sekali tidak mengurangi sukacita kami dalam acara reuni akbar tersebut. Gelak tawa lepas, senda gurau adalah beberapa akibat dari pertemuan ini. Terima kasih Ya Allah... terus terang saya senang campur terharu...
Ada yang sudah 28 tahun tidak bertemu namun banyak yang tidak berubah di antara kami dalam berkomunikasi, ingatan kami masih kuat karna harmoni pertemuan ini. Dari mulai menanyakan sahabat yang belum diketahui keberadaannya, yang sudah dipanggil sang kuasa hingga cerita tentang teman-teman yang nakal, genit, introvert, vulgar dan pintar serta perilaku beberapa yang selalu membuat jengkel guru-guru. Alhamdulillah, kita sepakat dalam hati dari awal tidak akan membicarakan sudah berapa harta yang kita miliki karna Tuhan hanya menanyakan berapa banyak kita sudah berbagi?.
Sudah mafhum pada kebanyakan acara semisal reuni akbar, peserta tidak akan konsentrasi pada susunan acara karna memang itu milik panitia. Semua peserta sibuk dengan angkatannya masing-masing bahkan perjumpaan dengan mantan guru-guru pun nyaris terlupakan, dengan rencana yang sudah tersusun hampir 3 bulan. Hasilnya cukup mengejutkan: Alumni Tahun 1984 hadir lebih dari 80 orang dan kebetulan saya yang menjadi Kordinatornya serta dibantu beberapa Staf Admin yang capable... Mulai dari pengumpulan data teman, dana reuni hingga dana charity... Viva Buaya 1984.
Dalam setiap kejadian selalu ada catatan sejarah bahkan buku besarnya langsung Tuhan yang menulis, Tak disangka karna bukan rencana kita – Selalu ada sebab akibat yang timbul. Saya senang sekali pertemuan ini mempunyai OUTPUT yang bermanfaat buat orang di sekitar kita, tidak absurd... kita bisa berbagi untuk Sukardiman yang saat ini sedang mengalami masalah dengan penglihatannya namun belum dapat berobat. Inilah bentuk manifestasi kebaikan dari semua teman-teman 84.
Apakah suasana INDAH ini akan terulang...? Saat ini usia kita rata-rata sudah 42 tahun ke atas, Jawabannya: BISA.... Selama semangat silaturahim disertai seruan nafas Ilahi untuk berbuat kemaslahatan - apa yang kita inginkan Insya Allah tercapai. Saya betul-betul mengapresiasi teman semua karna merasakan ada kekuatan emosi yang besar pada teman-teman semua yang terbingkai dalam PICTURE 1984 untuk selalu berbuat baik, menjadi orang yang soleh – Maka judul catatan saya adalah "STILL A LOT OF GOODFELLAS". Sepertinya semuanya sudah menanamkan bersama dalam hati tentang motto, “Sayangi yang di Bumi, Maka yang di Langit akan selalu menyayangi kita”
Terima kasih untuk semua, khususnya Team Kecil 84 serta Panitia RA SMPN 42 yang telah bekerja keras menciptakan acara ini. Semoga tenaga, waktu, biaya dan lelah kita adalah pengganti doa-doa yang lupa terucap. Amiin...
To be, To do, To have, To love and To share...
See you on next project... Wassalamu’alaykum....!
Kang EDED SYAEFUDINSang Sutradara bukan Sang Presiden.
PS: Thanks to all, Especially: Guru-guru yang dulu mendidik kami, Teman-teman semua: Kang Katma, Suripto, Ichsani Darman, Trijoko Waluyo, Edison Nyong Ambon, Suradji cucu Joko Tingkir, Mbak Sulis, Rusmiyati The Tough Mom, Rosmiati, Yusniar, Helfarika, Evi Gunarsih, Supriyanah, Purwanti The Beauty, Mas Gatsugi and all which couldn’t be mentioned one by one. May Allah bless you and families. Viva SMPN 42...

Monday, September 19, 2011

Menyatukan Serpihan Masa Lalu – Episode 2 - Ciganea 17 Sept 2011

Paska perjumpaan kami para alumni SMA Islam Cipasung angkatan 1986 – 1989 pada acara Buka Bersama (bukber) di Restoran Sunda Ampera Bogor, pertengahan bulan Agustus lalu - http://dedesyaefudin.blogspot.com/2011/08/menyatukan-serpihan-masa-lalu.html -, ada perasaan tersendiri mengisi pemikiran kami – Indah sekali... Seperti saat ini kami kembali ada dalam satu wilayah edukasi tempat kami dulu belajar, bercengkrama, tidur, makan, mengaji. Alhamdulillah walau hanya baru pada fase komunikasi namun dengan mudahnya kita buat acara lanjutan dengan makna Ibadah, dibingkai momen Halal Bil Halal (HBH), Kemudahan komunikasi juga yang berhasil membuat kita terus menambah angka teman yang selama ini hanya cuma dalam hitungan jari, kini bertambah lagi dan lagi walau sedikit demi sedikit hingga mencapai hampir 40 orang yang dapat hadir memadati rumah kediaman Nia L. Mardia, Teman kami yang baik yang dengan bahagianya menyediakan kami makanan dan minuman serta iringan organ tunggal menghibur kami.
Beberapa dari kami ada yang memang sudah puluhan tahun lamanya sengaja mencari-cari dan saling mencari keberadaan terakhir masing-masing... Subhanallah, RINDU sekali... Ada yang di luar kota bahkan dari luar negeri, sahabat kami seorang seniman lukis tinggal di Erofa, sengaja mengatur waktu senggangnya untuk dapat hadir bersama. Satu bukti nyata anugrah, kenikmatan dari Allah tidak pernah sedikitpun dikurangi pada diri setiap manusia dan tidak bisa kita dustai, "Fabiayyi Aala Irobbikuma Tukadzibaan (QS.55:16)". Gembira sekali rasanya kami bisa berjumpa lagi, namun ada juga kesedihan... karna ada beberapa TEMAN yang sudah pergi duluan dipanggul Ilahi, "Allahummaghfirlhu Warhamhu Wa 'Aafihi Wa'fu 'Anhu...”.
Riuh rendah, Gelak lepas tawa menjadi harmoni perjumpaan bercampur bersama aroma Sate Maranggi khas Purwakarta yang sedang dibakar oleh tuan rumah untuk sajian makan siang kami menyeruak masuk ke dalam ingatan sampai saat ini, Ya... salah satu pelengkap cerita ini. Lucunya beberapa topik pembicaraan kami yang tidak beraturan, berkelompok, akhirnya mengerucut ke dalam zona: memori, introspeksi, klarifikasi dan konklusi. Seperti contoh kalimat berikut: “Kenapa dulu guru A seperti tidak suka padaku?”, “Eh dulu sebetulnya kamu gak dekat banget sama kita ya? Atau “Ihh orang-orang semua sampai sekarang masih aja nganggap aku kekasih dia”, Lebih buruk lagi... “Kurang ajar ya... dia khan pembina harusnya melindungi kita”.
Ada keunikan tersendiri selain kami pelajar SMAI Cipasung saat itu, juga santri pada malam harinya dimana kami tinggal di asrama. Dalam satu asrama itu terdapat beberapa kamar yang disebut Kobong dan dalam satu kobong itu kita bisa tinggal bersama anak yang bersekolah di SMPI, MAN bahkan Mahasiswa IAIC yang mana semuanya ada dibawah naungan Pesantren Cipasung. Maka yang hadirpun terdapat beberapa Alumni SMPI yang memang sengaja diikut sertakan walau tidak melanjutkan ke SMAI, namun masih tetap memiliki emosional persahabatan yang sejati. Luar biasa, Cerita-cerita nyata ini tak pernah ada saat SMA – Baru disadari dan rasakan di antara kami bisa saling terbuka untuk berbagi, sekedar sumber gosip atau kepada tahap klarifikasi tadi.
Sampailah pada kesimpulan pertemuan, dimana kita mendefinisikan makna HBH ini harus mempunyai OUTPUT yang berarti bila dikaitkan dengan Cipasungnya yang hijau warnanya yang semestinya ada esensi Rahmatan Lil ’Alamin. Dimana setiap saat kita harus selalu mengajak keluarga bersujud bersama kepada Allah, selalu menjadi mantan murid yang sholeh dan sholehah - karna akan lebih baik dari pada menjadi guru yang buruk sampai tua, selalu baik kepada keluarga, teman dan masyarakat. Selain itu secara spontanitas kami sepakat untuk melakukan Charity atau kegiatan Amal kepada beberapa mantan guru kami yang sudah tidak berpenghasilan atau yang saat ini terbaring di tempat tidur dalam kondisi sakit.
Astaghfirullah, Kenapa kami baru sadar...? Ya Allah, Hambamu telah lupa bersyukur atas nikmat yang telah engkau berikan. Guru-guru itu telah membuat kami berilmu, berharta, memberi kami kepercayaan diri melihat dunia bahkan dikenal dunia. Terima kasih Engkau menyatukan kami, mengingatkan... Pada bagian ini semoga syukur yang kupanjatkan untukMU adalah kata kunci pada saat berdoa padaMU atas rahmat dan berkah yang tiada henti-hentinya KAU berikan, Amiin.
Sampai jumpa di momen berikutnya, Insya Allah
Wassalam,
Dede Syaefudin - SMAI/Biologi/1987, 17 Syawal 1432H.
Special thanks to:
  • Nia Lailatul Mardia & Lianasruddin for your foods and drinks and the sweet home.
  • Hilarious and funny of Kobong BBM members: Nema Une, Couple Jiwan and Ning Nong Blenong, Noceng Rongewu, Jajang si Kasep, Ite Markite, Evy Minah, Noer HS.(Hayang Seuri), Ustadz Haedar, Lava the Lawyer, Nia-Lia Babah as well and Novi the Uptown Girl.
  • and all participated friends which are not able to be mentioned one by one, May Allah bless you and all families. See you on next project.
Pictures:

· Alumni 1986
· Alumni 1987:
· Alumni 1988:

· Alumni 1989:
· Alumni SMPI:

Sunday, August 14, 2011

Menyatukan Serpihan Masa Lalu

Momen Ifthor Jamai hari Sabtu, 13 Agustus 2011 kemarin adalah momen istimewa bagi kami walaupun dihadiri tidak lebih dari selusin teman. Kami berbuka puasa di RM.Ampera, Bogor bersama beberapa teman lintas angkatan dibawah naungan payung besar Alumni Pesantren Cipasung. Acaranya ini sendiri terprakarsai dari Group BBM dan Sosial Media Facebook yang merupakan jaringan koneksi kami setelah hampir rata-rata dari kami terpisah 24 tahun lamanya.
Kami tidak menyangka awal perjumpaan kami diniatkan untuk mengadakan acara berbuka bersama, menjalankan kebiasaan yang dianjurkan Rasulullah untuk mengisi bagian Ramadhon yang Indah ini. Walaupun jarak kami banyak yang lumayan berjauhan tapi... Subhanallah, bahkan ada salah seorang teman wanita, dia sanggup menggunakan Bis umum dari Sumedang ke Bogor sendirian demi rencana mulia ini... Takkan kami lupakan perjuanganmu....
Suasana riang, haru, sedih bercampur menjadi harmoni yang jelas menarik kami larut dengan masa lalu, bersatu kembali dengan serpihan jiwa kami yang sempat “terlepas” hampir dua kali usia kami saat itu. Dimana lembar kehidupan kami pernah diberi warna dan angka sebagai bagian dari dimulainya perjalanan hidup kami saat remaja.
Kami saling menatap, tak jauh berbeda kecuali bentuk tubuh yang kebanyakan menjadi gemuk , rambut sedikit beruban bahkan ada yang mulai botak serta raut muka yang semakin menua. Tapi, tawa kami tetap lepas, gurauan kami tak berbeda, meski dunia kami sudah saling berbeda.
Cerita kami tetap searah namun luas: dari mulai Guru kami yang bersahaja, Guru kami yang suka nagih telat bayaran SPP, Teman kami yang paling ngocol dan pintar hingga, Nanay tukang Mie, Uu Darbo Tukang Rokok hingga bi Mala dan ceu Eutik - Dua perempuan cerewet namun baik hati tempat kami berhutang makan. Semoga topik pembicaraan kami tentang mereka menjadi doa agar mereka semua ada dalam lindungan Allah SWT.

Kami hadir dengan status masing-masing sebagai Guru, Pengusaha, PNS, Profesional, Seniman, Anggota Legislatif, Istri, Ibu Rumahtangga, dll…. Namun, di momen ini kami lepaskan semua status dan latar belakang itu dan larut sepenuhnya, menyatu dalam kenangan dan kenyataan bahwa kami berasal dari tempat yang sama yaitu “Cipasung”.
Tak terasa waktu jualah yang mengatur kami untuk berpisah, padahal masih banyak cerita, pertanyaan dan jawaban tak beraturan yang belum semuanya menjadi tema sore itu.
What next? Begitu beberapa dari kami saling bertanya... Apakah kita akan rutin bertemu dan saling mengeluarkan ide-ide untuk berbagi, charity, sharing, informasi dan lainnya?.
Bagiku doa yang belum sempat aku katakan adalah marilah kita selalu saling mengingatkan, selalu mengajak keluarga kita, handai taulan untuk meningkatkan sujud kita kepada Allah Azza Wa Jalla... karna di bawah “Kobong Cipasung” kita dulu belajar bersujud, Kita syukuri karena tanpa DIA mustahil kita bertemu dan mewujudkan rencana-rencana kita.
Sampai bertemu di momen berikutnya... Insya Allah....
Wassalam,
Dede Syaefudin - SMAI/Biologi/1987, 14 Ramadhan 1432H.
Special thanks to dearest friends:
Neneng Maryam Hulaemi, Lilies HR, Muklis Nceng, Moch.Lianasrudin, Lava Sembada, Iwan Setiawan, Ning Noer, Novi Sopiah, Dadang Abdul Latif, Muh.Hasan, Cecep Haerudin and Zainul Muttaqin. May Allah bless you and all families. See you on next project.